Trivia:
Tahukah kamu, Cimory adalah singkatan dari Cisaura Mountain Dairy?
-->
Hari ke-2!
We decided to go to the famous Petaling Street & Bukit Bintang.
First destination was Central Market. Hmmm, this is just not my cup of tea :D Mirip sama lantai bawahnya Jungceylon di Phuket. Semua suvenir (khas) kota ini bisa ditemuin di sini. About the price, gak tahu juga. Kalo yang di Jungceylon sih emang pada suggest beli di sana aja, karena harganya bisa lebih murah dari yang di luar mal.
Kami gak lama-lama di sini, cuma ngider sekali, beli jus leci 2 MYR, abis itu cabut ke Petaling Street.
Petaling St. mirip sama Pasar Baru banget. Kios-kios berjejeran, penjualnya berteriak riuh-rendah mencoba menarik perhatian pengunjung, terutama yang suku kulit pucat. Beberapa pedagang makanan yang menarik hati a.l. roasted chestnut (berangan/kastanye panggang), roasted pork (merk Loong Kee, semacam Bee Cheng Hiang), air mata kucing (jangan tertipu! Ini liang teh, Sodara-sodara!), dan mochi (but I didn't buy this). Oya, ada juga duck feet, kami beli karena penasaran, dan memutuskan untuk membuangnya setelah nyicipin that cold duck feet. Ternyata itu isinya kaki bebek yang dililit usus (dan sepertinya plus darah, eww).
Akhirnya jalan-jalan lagi! Hihi.
16 November 2013, akhirnya untuk pertama kalinya Ben mendapat cap di paspornya. 2 jam perjalanan yang relatif tenang kami lalui untuk tiba di LCCT (Low Cost Carrier Terminal) Sepang, Malaysia.
Note: salah satu FA AirAsia-nya unyu-unyu lhooo, bikin deg-degan aja deh ah. Namanya Andrew.
Sesampe di LCCT, langsung disambut dengan antrean imigrasi yang wahai panjangnya, 7 lapis berular-ular bok. Kita ngantre kurang lebih 1 jam sajaaaa, untunggg Ben gak rewel. Iya, soalnya beliau bobok, hihi. Itu petugas imigrasi hairon ya, kok pada gak ada yang ramah. Disapa “hai”, boro-boro ngejawab, natap muka kita aja gak. Tadinya gw pikir apa karena gw orang Asia juga ya, tapi bule di belakang gw yang nyapa dia pun dicuekin juga lho. Tampangnya datarrr aja kayak triplek. Sadis, mas bro.
Gw masih pede bakal gampang nemuin Skybus, shuttle berbayar yang disediain AirAsia, di terminal yang lebih mirip gudang ini. Sumpah, masih bagusan Terminal 3 kitalah. Dari blog yang gw baca, katanya semua sign jelas, kita bakal tau di mana lokasi bus itu berada. Ealah, gak ada dong. Kita pun nanya-nanya. Pada jutek lagi, cuma nunjuk, “Di luar.” Jalanlah kita kurang lebih 10 menit, ketemulah lokasi si bus, ada abang-abang India berdiri di depan busnya, pake baju warna merah bertuliskan Skybus. “Wait,” kata salah satu abang. Ternyata bus yang di depan kita ini udah penuh. Menantilah kita tanpa kepastian, hampir 1 jam, sampe bus berikutnya datang. Begitu naik pun gak langsung jalan, masih nunggu beberapa penumpang, baru menempuh kira-kira another 1 hour menuju KL Sentral. Supir busnya nyetel CD/DVD gitu dong, albumnya Kangen Band :D
Note: di badan bus ditempel beberapa stiker seperti larangan merokok, larangan makan/minum, eh, ada stiker Apple pula. Kirain becanda, ternyata bener disediain charger Apple!
Tiba di KL Sentral. Semua bayangan gw tentang stasiun ini luluh lantak dengan sukses. Tadinya gw ngebayangin central hub ini bakal kayak Grand Central Station New York (ya bukannya gw pernah ke sana juga sih, hihihi), ternyata mengingatkan akan Terminal Senen! Gak ding. Ga segitu amatlah. Keren juga kok KL Sentral, ada eskalator, disediain free courier service (tah bener tah gak), banyak tempat makan, yaaa, mirip bandara mini sih.
Dan tolong ya siapa itu yang nulis blog kalau lu gak bakal bisa nyasar di KL! Siapah!
Err, gak sih, sebenernya kita aja yang missed :D Taunya kan kita harus naik MRT ke Stasiun Tuanku Abdul Rahman, nah kita tanya orang kok semua pada gak tahu. Ternyata, kita itu harusnya naik MONORAIL ke Stasiun MEDAN TUANKU. Begitu.