Showing posts with label family vacation. Show all posts
Showing posts with label family vacation. Show all posts

Monday, 31 October 2016

CIMORY: one-stop short getaway



CIMORY RIVERSIDE – Cisarua

Sabtu, 29 Oktober 2016

Setelah mengisi perut di Bogor dengan soto mie Mang Ohim yang not bad at all itu, kami bingung mau ke mana lagi. Ke Kebun Raya Bogor, malas, hihi. Setelah pikir punya pikir, kita memutuskan naik ke Cimory.

Satu jam perjalanan kami tempuh, macet di sana sini, tiba juga kami di lokasi. Sempat pesimis tidak dapat parkir karena restoran lagi penuh, eh tahu-tahu ada mobil yang mau keluar, pas banget. Berkah anak soleh.

Hujan sedang lebat sekali waktu itu. Kami dapat tempat duduk agak di tengah, di atas, bagian non-smoking. Aries sebenarnya ingin duduk di pinggir birai, langsung melihat pemandangan sungai, namun kami kalah cepat dengan tamu lain.
Tidak lama kemudian, saya ke toilet. Keluar dari sana, melewati tempat duduk yang tadi kami incar. Mejanya kosong dan bersih, tidak ada tanda “RESERVED” seperti yang saya lihat di beberapa meja. Saya bertanya kepada seorang pelayan, “Kosong?” Dia mengangguk, lalu mengonfirmasi ke rekannya. Rekannya juga mengangguk, “Kosong.” Dengan riang saya memanggil Aries dan Ben untuk pindah. Pelayan juga langsung mempersiapkan meja, menyodorkan buku menu. Seorang pelayan lain datang, mencatat pesanan kami dengan ramah. Belum juga 5 menit duduk tenang, tiba-tiba si pelayan tersebut kembali dengan bergegas.
“Maaf Bu, ternyata tempat ini sudah direservasi.”
Di belakangnya tampak sepasang pria-wanita yang memegang selembar kertas yang bertuliskan angka.
“Lho, tadi saya tanya katanya kosong?” bantah saya.
“Iya Bu, ini tadi dari pihak reservasi yang memberikan meja ke tamu ini,” jawab si pelayan.
Setelah berbantahan lagi sebentar, akhirnya kami memutuskan untuk angkat kaki saja dari meja itu.
Tamu lain tersebut, si pria, mencoba memecahkan kekikukan, “Di sini yang atur bagian reservasinya, Mbak. Nih, saya dikasih nomornya,” dia mengangkat kertas tersebut.
Saya hanya menyunggingkan senyum “don’t-care-bruh.” Dia salting.
Sang wanita mencetus, “Maaf ya, Bu,” ketika saya melewatinya. Kali ini saya tersenyum tulus padanya.

Di meja baru, kami berusaha tetap semangat. Sayangnya, makanan yang datang mengecewakan. Zuppa soup-nya asin, rotinya kelewat renyah. Biasanya roti pada zuppa soup menempel hingga ke dalam mangkuk, tapi yang ini lepas. Mie gorengnya lumayan, tetapi topping-nya dingin. Coffee latte-nya? Hmm, not bad, hanya saja susunya banyak bener. Mentang-mentang produksi dairy nih, hahaha.

Memutuskan untuk don’t waste fun, Aries mengajak Ben turun duluan untuk lihat-lihat. Setelah membayar, saya ikut turun. Eh lah, kaget saya nemuin satu game centre kecil di situ! Ben udah kegirangan banget dan langsung minta dibeliin koin. Empat koin dikenai 10 ribu rupiah.

Setelah puas main, kami turun ke bawah lagi. Cimory Forest Walk, namanya. Di hutan itu kita bisa melihat sapi dari jarak dekat, kelinci (cuma seekor yang kami lihat), rusa, beberapa burung (ada kasuari, kakaktua). Yang lucu waktu kami ketemu kandang rusa yang masih muda. Mereka beringsut-ingsut menjauh setiap kami melangkah mendekat. Dengan matanya yang cantik, mereka memandang kami curiga, sambil siap-siap lari. Hihi.

Oh ya, untuk masuk ke sini, kita harus membayar lagi, 10 ribu per orang. Lumayan, dapet satu bungkus sari kacang kedelai dari Cimory ukuran 200 ml. Sari kacangnya enak! Wangi, manisnya pas. Berasa homemade banget.

Selesai dari Cimory Forest Walk, sesuai janji, kami mengantar Ben main di playground. Mainannya masih seperti dulu, ada jungkat-jungkit, monkey bars, perosotan. Sayangnya ada sisa muntahan di sana. Hiy. Buru-buru saya menginformasikan kepada petugas yang tak lama kemudian sigap membersihkannya. Kudos!

Sambil menunggu Ben main, saya masuk ke factory outlet di samping playground. Baju-bajunya bagus, sayangnya harganya menurut saya masih lumayan mahal, berkisar dari 85 ribu hingga ratusan ribu.

Menjelang pulang, kami mampir ke toko oleh-olehnya. Kami membeli sekotak crispy brownies dua rasa (almond dan choco chips) untuk bekal di jalan. Memang harus mengikuti instruksinya, lebih baik disimpan di dalam kulkas. Soalnya, kalau dalam keadaan suhu biasa, brownies-nya asli crispy, alias pecah-pecah, hehehe. Keluar dari kulkas sih udah enyaakk.

Overall, kami cukup terkesan dengan liburan di sini, serasa one-stop short getaway.


Trivia:
Tahukah kamu, Cimory adalah singkatan dari Cisaura Mountain Dairy?

-->

Tuesday, 24 November 2015

Floating Market Lembang (review alakadarnya)

FML menjadi tempat tujuan pertama kami dari Jakarta. Kami tiba di tempat ini dengan selamat setelah mengikuti petunjuk Mbak Google Maps (MGM), lewat jalan-jalan kampung.
Sampai di sana kurang lebih pukul 10 pagi, masih belum terlalu ramai.
Sementara saya menemani Sylvie membeli simcard Simpati untuk tabletnya, Aries dan Ben menuju wahana bermain air. Ben langsung menunjuk sepeda air.
Sambil menunggu bapak dan anak yang sedang seru ngegowes, Sylvie membeli sosis, dan saya menukar koin untuk Ben masuk tempat kelinci.
Sebelum mengunjungi kelinci, Ben naik kereta dulu (saya digratiskan, padahal ada bapak-bapak yang menemani anaknya tetap bayar, hihi). Kereta mengitari taman kecil sebanyak 2 kali. Senang sekali dengan lagu-lagu yang diputar dalam kereta, lagu-lagu daerah dan lagu anak-anak yang asli.
Masuk ke tempat kelinci, saya hampir histeris melihat banyaknya kelinci yang lucu dan menggemaskan. I’ve got this Alice-in-Wonderland feeling here, hahaha. Mereka bebas berlarian masuk ke gorong-gorong kecil, rumah-rumah kecil. Sementara Ben sibuk mengejar kelinci untuk memberi makan wortel, saya sibuk berburu buah ceri kampung (bukan, bukan cherry). Agak sayang sih, kelinci-kelinci tersebut sudah pada kekenyangan, yah, abis gimana, mereka diberi makan sebebasnya dan tanpa jadwal. Itu salah satu sebab saya secara pribadi mem-ban K*nt*m Nursery, karena para pengunjung dibebaskan untuk memberi makan binatang-binatang di sana. Kasihan!
Kami makan siang di sebuah restoran Sunda, lupa euy namanya. Ada paket nasi timbel, harganya kurang lebih 45 ribu.
Overall, FML ini cocok buat wisata keluarga. Tempatnya terawat rapi (di mana-mana banyak petugas yang rajin membersihkan dan menyiangi rumput), ada tempat main anak, ada tempat makan, cuaca sejuk. One-stop family leisure park, gitulah.
Ponten 8 dari saya!


HARGA
Tiket masuk per orang            : 15 ribu (bisa ditukar dengan welcome drink – lemon tea, Milo, kopi, teh. Yang dingin hanya lemon tea.)
Tiket parkir mobil                   : 10 ribu
Tiket sepeda air                      : 50 ribu
Kasih makan kelinci                : 20 ribu per orang
Naik kereta                              : 30 ribu per orang





Off We Go to Bandung!

31 Oktober 2015

Beberapa waktu yang lalu, Sylvie mengajak jalan-jalan ke Bandung. Kami langsung menyambut rencana ini dengan gembira. Tanggal pun ditetapkan, yang pasti setelah gajian, yaitu 7-8 November mendatang. Bagian terseru dari jalan-jalan bagi saya adalah tahap perencanaannya. Hm, tepatnya, tahap risetnya. Hihihi, serius amat ya, mau jalan-jalan aja pake riset. Tapi, ya begitulah saya. Cari tempat jalan-jalan, dan yang paling menyenangkan, mencari tempat menginap. Duh, penginapan-penginapan di Bandung itu lucu-lucu! Ini di luar hotel ya, yang tentu saja standar secara bangunan dan fasilitas. Di Jakarta juga bisa ketemu penginapan sekelas itu. Tapi kalo penginapan dengan kamar dekor imut-imut, sepertinya bakal susah kalo gak di kota kreatif seperti Bandung ini. Ada Frou-frou Room, Summerbird, xxxx. Tapiiii, mengingat kali ini kami tidak bepergian sendiri, tentu harus mempertimbangkan aspek kenyamanan peserta lain ini. Pusing pala baby, makanya saya sebenernya paling males kalo harus bepergian ramai-ramai. Karena ya itu, mensinkronkan otak saya sendiri aja kadang repot, ini lagi harus mensinkronkan dengan otak-otak lainnya. Ya, kita tunggu minggu depan ya!

24 November 2015
Hola! Am back from Bandung trip! It was a fun trip, indeed!
Dimulai pada sekitar pukul 06.15, Sabtu, 21 November, Aries yang sepertinya cocok jadi inspektur bootcamp sudah melajukan mobil. Berhenti sebentar di rest area supaya Cicik Sylvie bisa beli kopi, kami masuk Lembang kira-kira pukul 09.30. Sengaja memilih rute Lembang terlebih dahulu, karena tujuan pertama kami adalah Floating Market Lembang (review di sini). Biasa, demi anak.
Setelah makan siang di FML, kami melanjutkan perjalanan ke Miss Bee, yang berjarak tidak terlalu jauh dari sana. Bermodal MGM (Mbak Google Maps), dengan penuh percaya diri kami langsung tancap gas. Eh, baru juga keluar lokasi FML, ternyata sudah ada petugas yang mengarahkan ke kiri. Padahal MGM mengarahkan kami ke kanan. Namun, berhubung jalan ke arah kanan ditutup entah karena apa, mau tak mau kami ke kiri, dan blas! We were like in the middle of nowhere. Gak nowhere-nowhere banget sih, masih ada perkampungan, dengan jalanan yang sempit dan supercuram. Ada sebuah mobil di depan kami, dan kami yakin, mereka juga berpegang teguh pada MGM. Soalnya, hanya kami mobil yang melintas di jalan ini, huahuaha. Ndilalah, setelah mengarungi jalanan yang curam, kami dihadang sebuah plang bertulis: kendaraan roda 4 ke arah Ciumbuleuit tidak bisa lewat karena longsor. Padahal, Miss Bee hanya 2 km lagi! Bukan Aries namanya kalau tidak mencobai peraturan terlebih dahulu. Dengan nekat, beliau melaju terus sampai dihentikan akang-akang di situ. “Gak bisa lewat, Pak. Longsor,” demikian infonya. Dia memberi tahu kami jalur alternatif, yang tidak kami mengerti karena kami sama sekali tidak familier dengan nama-nama tempat yang disebutkannya -.-.
Balik arah, kami masuk ke sebuah kompleks perumahan mewah yang sepertinya belum jadi. Kami bertanya pada satpam dengan patokan Hotel Padma. Beliau tampak bingung. “Padma? Hotel Chedi? Malya?”
Ha! Untung saya pernah baca kalau dulunya Padma bernama Chedi, setelah itu Malya.
“Iya, Pak! Itu maksudnya!” sergah saya.
Setelah mengikuti petunjuk satpam, kami tiba di Kompleks LIPI. Dan kami baru sadar, lhaaaa ini kan kompleks tempat sahabat kami dulu tinggal!!! What a coincidence!
Pokoknya, semua ketegangan terbayar dengan makanan dan pemandangan di Miss Bee (review di sini).
Selesai menikmati Miss Bee, kami memutuskan untuk langsung ke hotel. Perjalanan kurang lebih satu jam menuju daerah Paskal, tibalah kami di Hotel Serela Waringin (review di sini).
Malamnya kami dinner di Paskal Food Market. Sylvie yang belum pernah ke sini nyaris kalap melihat banyaknya tempat makan yang berjejer di sini. Cuaca malam itu bersahabat, sejuk tanpa hujan, ramainya juga masih beradab.
And we kissed the night goodbye with a good sleep!

Tuesday, 17 February 2015

Samosir -Medan Trip (3)



Sabtu, 14 Februari 2015
Pukul 09.20, kami dijemput kapal menuju Parapat. 1 jam lebih perjalanan sambil menjemput penumpang lain, kami turun di pelabuhan, dan langsung bertemu dengan agen travel yang sudah kami pesan, Bagus Taxi. Kami menegaskan untuk minta bangku tengah, apalagi setelah melihat ada 3 orang bule yang memesan mobil yang sama. Mereka kan badannya besar, takutnya mereka langsung mengambil tempat di tengah. Untunglah agen travel mau bekerja sama, “Mereka juga baru pesan tiket, kan!” demikian kata si abang. Sambil menunggu waktu keberangkatan, kami pergi ke sebuah warung kopi bernama De Karo, dan membeli kopi giling kasar 1 kilogram dan sebuah VCD lagu-lagu Batak. Si kakek pemilik warung tampak ramah dan dengan senang hati melayani kami. Warung kopi itu tampak apik dengan berbagai stiker nama negara menghiasi sudut-sudutnya, dan isinya pun kebanyakan bule. Kami meninggalkan warung itu dengan hati riang. Setiba di Jakarta, Aries iseng menimbang bungkusan kopi, dan fakta menunjukkan bahwa si kakek mengurangi 100 gr dari hak kami. Kampret.

Samosir-Medan Trip (2)

Tuk-Tuk Hari 1
Kami tiba di penginapan sekitar pukul 6 malam, pihak hotel mempersilakan kami bersantai terlebih dulu. Aries memutuskan untuk nyebur dan membawa Ben. Sayangnya, Ben mungkin masih belum fit (habis demam sebelum pergi), dia pun menangis meronta-ronta, akhirnya menolak masuk danau hingga hari terakhir L Lumayan ngeri juga sih kalo gak bisa berenang, soalnya arusnya rada kenceng dan dalam. Sepertinya kami adalah satu-satunya tamu orang lokal alias sesama orang Indonesia. Lainnya bule, tapi sepertinya kebanyakan mereka bukan English speaker. Buku-buku yang disediakan di rak restoran pun 98% berbahasa non Inggris :D Entahlah itu bahasa apa, mungkin Jerman. Oya, ada satu buku berbahasa Indonesia: Pelajaran Geografi untuk kelas 5 SD. Entah tahun berapa buku itu. Kami berjalan-jalan sebentar, tapi tidak menemukan apa-apa, dan karena hari sudah makin gelap, kami pun kembali ke kamar.

Samosir-Medan Trip (1)



Kamis, 12 Februari, pukul 6 pagi, kami bersiap meninggalkan Jakarta melalui bandara Soekarno-Hatta. Taksi BlueBird yang kami pesan datang tepat waktu, dan mengantarkan kami tiba di bandara kurang lebih 45 menit lamanya. Karena sudah mobile check-in, saya langsung menuju counter Garuda Indonesia yang paling sepi (dengan tulisan waiting list passengers) dan menunjukkan ponsel saya pada petugas di sana. Tepatnya, isi SMS yang saya terima dari Garuda. Tak sampai 5 menit, boarding pass pun saya terima.
Perjalanan dengan Garuda selalu menyenangkan. Saya nonton film Tabula Rasa (2014) hampir sepanjang perjalanan, sayang belum selesai, pesawat sudah mendarat di Kuala Namu International Airport. Kesan pertama saya saat menginjakkan kaki di sini, wah, gede dan mewah banget. Saya harus menjelajahinya nanti waktu hari keberangkatan kembali ke Jakarta, tekad saya, yang terburu-buru karena ingin mengejar kendaraan menuju Siantar.
Seperti yang disarankan dalam blog seseorang, melangkah saja dengan tampang yakin, jangan terlihat bingung. Banyak sekali abang-abang yang akan mendekati Anda dan menawarkan kendaraan mereka. Jangan tergoda! Jika Anda seperti saya yang ogah mengeluarkan uang banyak sementara ada alternatif lain yang relatif lebih murah, segeralah melangkah keluar, carilah plang besar bertuliskan “Bus”, dan carilah kendaraan dengan label Paradep. Saya mendapat mobil Avanza, berkapasitas 7 orang penumpang dan 1 supir. Saya, suami, dan anak (dihitung full, karena itu dia berhak selonjoran di kursi), membayar 165 ribu untuk perjalanan 3 jam lebih ke Siantar. Mobil berhenti sejenak pada pukul 12 kurang di sebuah tempat makan sangat sederhana. Hanya kami dan sang supir yang makan. Harga makanan juga relatif terjangkau. Saya makan nasi dengan lauk ikan dan sayur lontong dikenai 15 ribu.

Friday, 22 November 2013

Day 3, Kuala Lumpur Trip, 16-19 November 2013

Hari ini kita mo ke IKEA! Yeay! Salah satu main destinations kita ke sini.

Setelah mengumpulkani informasi dari mana-mana, termasuk dari temen yang sempet sebulan tugas di KL, finally, I present you:

CARA KE IKEA DAMANSARA (abis kayanya rada susah cari info ini di Internet, bok):

1. Naik LRT alias jalur Kelana Jaya (jalur merah), turun di stasiun terakhir, Kelana Jaya.

2. Keluar stasiun, naik 1 lantai, menyeberanglah di jembatan penyeberangan. Di situ sih ada terminal bus Rapid KL, ada juga yang mengarah ke IKEA, tapi berbayar. Kita mo cari free shuttle-nya.

3. Nah, di seberang sini ada tempat menunggu bus. Tunggulah dengan manis di sana, kalo masih lama, bisa jajan-jajan dulu di pertokoan di belakang. Ada Sevel, resto pizza (forever I owe you for providing free wifi that is accessible even by standing outside :D). Jadwal free shuttle-nya bisa dilihat di sini.


Note: yakin pede aja pas nunggu free shuttle, soalnya gak semua orang situ tau klo ternyata disediain free shuttle ke IKEA. Oya, IKEA itu terletak di dalam pertokoan IPC (Ikano Power Center), jadi klo mo nanya, bisa aja nyebutnya ke Ikano. Di badan shuttle busnya juga tertulisnya free shuttle to IPC. Lama perjalanan kira-kira 15 menit. Busnya nyaman, ber-AC dan menampung cukup banyak penumpang. Mirip dengan free shuttle bus yang disediain Summarecon Serpong.

Always, always love this place :) Sayangnya, di sini Ben agak rewel :( Gabungan laper-tapi-gak-mau-makan dan ngantuk-tapi-gak-mau-bobo plus belum-pup. Sama karena kita tarik paksa dari mainan kompor-komporan dan lampu sih, hehe. Alhasil, setelah dia pup, barulah dia tenang dan tidur pulas di stroller. 

Day 2, Kuala Lumpur Trip, 16-19 November 2013

Hari ke-2!

We decided to go to the famous Petaling Street & Bukit Bintang.

First destination was Central Market. Hmmm, this is just not my cup of tea :D Mirip sama lantai bawahnya Jungceylon di Phuket. Semua suvenir (khas) kota ini bisa ditemuin di sini. About the price, gak tahu juga. Kalo yang di Jungceylon sih emang pada suggest beli di sana aja, karena harganya bisa lebih murah dari yang di luar mal.

Kami gak lama-lama di sini, cuma ngider sekali, beli jus leci 2 MYR, abis itu cabut ke Petaling Street.

Petaling St. mirip sama Pasar Baru banget. Kios-kios berjejeran, penjualnya berteriak riuh-rendah mencoba menarik perhatian pengunjung, terutama yang suku kulit pucat. Beberapa pedagang makanan yang menarik hati a.l. roasted chestnut (berangan/kastanye panggang), roasted pork (merk Loong Kee, semacam Bee Cheng Hiang), air mata kucing (jangan tertipu! Ini liang teh, Sodara-sodara!), dan mochi (but I didn't buy this). Oya, ada juga duck feet, kami beli karena penasaran, dan memutuskan untuk membuangnya setelah nyicipin that cold duck feet. Ternyata itu isinya kaki bebek yang dililit usus (dan sepertinya plus darah, eww).

Thursday, 21 November 2013

Day 1, Kuala Lumpur Trip 16-19 November 2013

Akhirnya jalan-jalan lagi! Hihi.

16 November 2013, akhirnya untuk pertama kalinya Ben mendapat cap di paspornya. 2 jam perjalanan yang relatif tenang kami lalui untuk tiba di LCCT (Low Cost Carrier Terminal) Sepang, Malaysia.

Note: salah satu FA AirAsia-nya unyu-unyu lhooo, bikin deg-degan aja deh ah. Namanya Andrew.

Sesampe di LCCT, langsung disambut dengan antrean imigrasi yang wahai panjangnya, 7 lapis berular-ular bok. Kita ngantre kurang lebih 1 jam sajaaaa, untunggg Ben gak rewel. Iya, soalnya beliau bobok, hihi. Itu petugas imigrasi hairon ya, kok pada gak ada yang ramah. Disapa “hai”, boro-boro ngejawab, natap muka kita aja gak. Tadinya gw pikir apa karena gw orang Asia juga ya, tapi bule di belakang gw yang nyapa dia pun dicuekin juga lho. Tampangnya datarrr aja kayak triplek. Sadis, mas bro.

Gw masih pede bakal gampang nemuin Skybus, shuttle berbayar yang disediain AirAsia, di terminal yang lebih mirip gudang ini. Sumpah, masih bagusan Terminal 3 kitalah. Dari blog yang gw baca, katanya semua sign jelas, kita bakal tau di mana lokasi bus itu berada. Ealah, gak ada dong. Kita pun nanya-nanya. Pada jutek lagi, cuma nunjuk, “Di luar.” Jalanlah kita kurang lebih 10 menit, ketemulah lokasi si bus, ada abang-abang India berdiri di depan busnya, pake baju warna merah bertuliskan Skybus. “Wait,” kata salah satu abang. Ternyata bus yang di depan kita ini udah penuh. Menantilah kita tanpa kepastian, hampir 1 jam, sampe bus berikutnya datang. Begitu naik pun gak langsung jalan, masih nunggu beberapa penumpang, baru menempuh kira-kira another 1 hour menuju KL Sentral. Supir busnya nyetel CD/DVD gitu dong, albumnya Kangen Band :D

Note: di badan bus ditempel beberapa stiker seperti larangan merokok, larangan makan/minum, eh, ada stiker Apple pula. Kirain becanda, ternyata bener disediain charger Apple!

Tiba di KL Sentral. Semua bayangan gw tentang stasiun ini luluh lantak dengan sukses. Tadinya gw ngebayangin central hub ini bakal kayak Grand Central Station New York (ya bukannya gw pernah ke sana juga sih, hihihi), ternyata mengingatkan akan Terminal Senen! Gak ding. Ga segitu amatlah. Keren juga kok KL Sentral, ada eskalator, disediain free courier service (tah bener tah gak), banyak tempat makan, yaaa, mirip bandara mini sih.

Dan tolong ya siapa itu yang nulis blog kalau lu gak bakal bisa nyasar di KL! Siapah!

Err, gak sih, sebenernya kita aja yang missed :D Taunya kan kita harus naik MRT ke Stasiun Tuanku Abdul Rahman, nah kita tanya orang kok semua pada gak tahu. Ternyata, kita itu harusnya naik MONORAIL ke Stasiun MEDAN TUANKU. Begitu.