Tuesday, 14 April 2015

Bye Co-sleeping :'(


Start from last night, Ben is on trial to for independent sleep.

I WAS DEVASTATED.

Funny, since before last night, I was still wondering when he would get more independent. There are moments, I must admit with shame, when I got impatient with him being clingy to me, or even just being affectionate to me, like trying to kiss me like thousands time.

:'(

And now, that not-so-little baby of mine is bravely sleeping apart from his mother (husband sleeping with him for the first night). I can't help remembering the first time I had to stop nursing him, it was also painful. Then when we decided to sleep in separate bed, it was also a heartbreaking experience for me.

And yet this new step for us also brings the same awful feeling inside. I will deeply miss listening to him breathing, I will miss stooping by his bed just to watch him sleep, kiss his chubby cheek, or put some ointment on his scar, which he would refuse strongly by day. I know, I've been silly and impatient almost every time when he cried for bathroom in the middle of the night, and I started to repeat the question on my head: "When will he ever grow up and start doing things by himself?"

But this grumpy Momma did not anticipate the day when her baby boy suddenly step on a higher ladder with no warning. As much as I thought I want to ditch our habit of sleeping together, it turns out that it was me who feel most comfortable doing that.


Excuse me, I'm going to weep.


Friday, 6 March 2015

Eddie

My current crush!

I only knew him for a week, and I already head-over-heels for this magnificent Eton boy.
I knew he was nominated for Best Actor in Leading Role in Oscars for his work in "The Theory of Everything"(I had the movie downloaded safely, tbh). Yet, since I am not a big fan of Mr. Hawking, I didn't find myself rushing to watch the film.
Not until I saw Eddie on the Oscars night. I WAS INSTANTLY TOTALLY IN LOVE.
I love how glowing his face was, how goofy he was in the stage, how humble he was in his deliverance speech, and how madly in love he was with his newly wedded wife, Hannah. I love how genuine he appears, how authentic he is.

Only then I started to do a not-so-little research about him. I learned that he came from a pretty esteemed family, he was in the same year with Prince William ini Eton, and went to Cambridge (yeah, I drool educated men). And, he is a Briton! Yeay! His voice is unexpectedly deep, also.
I didn't realize he was the one who acted as Marius on Les Mis the movie. I only remembered that I wasn't really impressed by this particular man, with his freckles and wide lips. But his song of "Empty Chairs at Empty Tables" was memorable.

I think I'm officially obsessed, that I follow his fandom IG accounts everywhere. And unlike my previous crushes for Briton, as Tim Roth and Hugh Laurie - oh, and also Mark Owen from Take That, gee, what's in those guys, actually? - , it started with me seeing his real performances as a human being, not as a character in the movie. I mean, like for Tim and Hugh (first name basis, huh), I fell in love with their characters; Cal Lightman and Gregory House. When I did my researches on them, I barely able to stand their dark sides. Tim roots for politics, and Greg seems having a psychological issue. I fell in love with Cal and Greg, not Tim and Hugh.

But for Eddie, I truly swooned by his smile, his hazel eyes, his cute freckles, his amazing talents, his humble personality, his sweet and genuine love to his beautiful wife!

I'm taking a risk to sound like a young girl, but heck yeah, it's Eddie Redmayne! And I'm on a mission to look for and watch his movies!!!




Tuesday, 17 February 2015

Samosir -Medan Trip (3)



Sabtu, 14 Februari 2015
Pukul 09.20, kami dijemput kapal menuju Parapat. 1 jam lebih perjalanan sambil menjemput penumpang lain, kami turun di pelabuhan, dan langsung bertemu dengan agen travel yang sudah kami pesan, Bagus Taxi. Kami menegaskan untuk minta bangku tengah, apalagi setelah melihat ada 3 orang bule yang memesan mobil yang sama. Mereka kan badannya besar, takutnya mereka langsung mengambil tempat di tengah. Untunglah agen travel mau bekerja sama, “Mereka juga baru pesan tiket, kan!” demikian kata si abang. Sambil menunggu waktu keberangkatan, kami pergi ke sebuah warung kopi bernama De Karo, dan membeli kopi giling kasar 1 kilogram dan sebuah VCD lagu-lagu Batak. Si kakek pemilik warung tampak ramah dan dengan senang hati melayani kami. Warung kopi itu tampak apik dengan berbagai stiker nama negara menghiasi sudut-sudutnya, dan isinya pun kebanyakan bule. Kami meninggalkan warung itu dengan hati riang. Setiba di Jakarta, Aries iseng menimbang bungkusan kopi, dan fakta menunjukkan bahwa si kakek mengurangi 100 gr dari hak kami. Kampret.

Samosir-Medan Trip (2)

Tuk-Tuk Hari 1
Kami tiba di penginapan sekitar pukul 6 malam, pihak hotel mempersilakan kami bersantai terlebih dulu. Aries memutuskan untuk nyebur dan membawa Ben. Sayangnya, Ben mungkin masih belum fit (habis demam sebelum pergi), dia pun menangis meronta-ronta, akhirnya menolak masuk danau hingga hari terakhir L Lumayan ngeri juga sih kalo gak bisa berenang, soalnya arusnya rada kenceng dan dalam. Sepertinya kami adalah satu-satunya tamu orang lokal alias sesama orang Indonesia. Lainnya bule, tapi sepertinya kebanyakan mereka bukan English speaker. Buku-buku yang disediakan di rak restoran pun 98% berbahasa non Inggris :D Entahlah itu bahasa apa, mungkin Jerman. Oya, ada satu buku berbahasa Indonesia: Pelajaran Geografi untuk kelas 5 SD. Entah tahun berapa buku itu. Kami berjalan-jalan sebentar, tapi tidak menemukan apa-apa, dan karena hari sudah makin gelap, kami pun kembali ke kamar.

Samosir-Medan Trip (1)



Kamis, 12 Februari, pukul 6 pagi, kami bersiap meninggalkan Jakarta melalui bandara Soekarno-Hatta. Taksi BlueBird yang kami pesan datang tepat waktu, dan mengantarkan kami tiba di bandara kurang lebih 45 menit lamanya. Karena sudah mobile check-in, saya langsung menuju counter Garuda Indonesia yang paling sepi (dengan tulisan waiting list passengers) dan menunjukkan ponsel saya pada petugas di sana. Tepatnya, isi SMS yang saya terima dari Garuda. Tak sampai 5 menit, boarding pass pun saya terima.
Perjalanan dengan Garuda selalu menyenangkan. Saya nonton film Tabula Rasa (2014) hampir sepanjang perjalanan, sayang belum selesai, pesawat sudah mendarat di Kuala Namu International Airport. Kesan pertama saya saat menginjakkan kaki di sini, wah, gede dan mewah banget. Saya harus menjelajahinya nanti waktu hari keberangkatan kembali ke Jakarta, tekad saya, yang terburu-buru karena ingin mengejar kendaraan menuju Siantar.
Seperti yang disarankan dalam blog seseorang, melangkah saja dengan tampang yakin, jangan terlihat bingung. Banyak sekali abang-abang yang akan mendekati Anda dan menawarkan kendaraan mereka. Jangan tergoda! Jika Anda seperti saya yang ogah mengeluarkan uang banyak sementara ada alternatif lain yang relatif lebih murah, segeralah melangkah keluar, carilah plang besar bertuliskan “Bus”, dan carilah kendaraan dengan label Paradep. Saya mendapat mobil Avanza, berkapasitas 7 orang penumpang dan 1 supir. Saya, suami, dan anak (dihitung full, karena itu dia berhak selonjoran di kursi), membayar 165 ribu untuk perjalanan 3 jam lebih ke Siantar. Mobil berhenti sejenak pada pukul 12 kurang di sebuah tempat makan sangat sederhana. Hanya kami dan sang supir yang makan. Harga makanan juga relatif terjangkau. Saya makan nasi dengan lauk ikan dan sayur lontong dikenai 15 ribu.