Sekitar tahun 2004, saya sedang gundah untuk berhenti dari kantor pertama saya. Lingkungan kerja sudah tidak kondusif, cenderung negatif. Atasan persis di atas saya sudah bulat tekadnya untuk berhenti. Entah dia akan bekerja apa setelah itu, yang pasti dia tidak ingin lebih lama lagi di kantor ini. Saya juga ingin buru-buru berhenti, tapi karena belum ada kepastian kerja di mana selanjutnya, saya masih mempertimbangkan keputusan itu.
Makanya saya kaget betul ketika mendapatkan email dari penerbit terbesar di Indonesia. Wow, lamaran yang saya masukkan setahun yang lalu akhirnya diresponi positif! Sebelumnya, mereka memang sudah membalas dan mengatakan mereka belum punya lowongan. Siapa sangka, hampir kemudian, mereka mengundang saya untuk ikut tes penerjemah di kantor mereka.