Showing posts with label days of my life. Show all posts
Showing posts with label days of my life. Show all posts

Monday, 7 November 2016

SX 4 rusak! :(

Semua berawal dari rasa lapar beberapa waktu setelah makan malam.

Malam itu, sesuai rencana, kami mengambil cucian bedcover yang sudah dititipkan sejak seminggu yang lalu. Karena sekalian mengeluarkan mobil (bedcover-nya 4 lembar aja), kita terpikir untuk jajan-jajan lucu.
Pilihan jatuh ke McD Puri Indah, karena di sana ada playground, jadi Ben bisa menyalurkan energi di sana, sekaligus kita bisa beli Happy Meal buat mendapatkan hadiah topeng Transformer (padahal gak ada yang nge-fan juga :p).
Kami membelah jalan dengan riang, tanpa hambatan berarti kecuali sedikit penyempitan jalan dekat pintu keluar tol.
Masuk di parkiran McD semua juga masih aman. Kami memesan lewat drive thru’ (biar dapet gratisan stiker), membayar, lalu mencari parkir. Nah, waktu hendak parkir inilah, Ben tiba-tiba berkomentar, “Papa, itu kok lampunya nyala lagi?”
Yang dimaksud Ben adalah lampu peringatan ABS. Bulan Juli kemarin kami baru melakukan servis sedang karena lampu ABS terus menyala. Setelah diperiksa, ternyata kabelnya putus gara-gara digigit tikus. Ergh.
Aries kaget, lalu sadar, “Eh, kok setirnya berat banget, ya.”
Saya dan Ben turun duluan, Aries masih cari tempat parkir.
Begitu masuk, wajahnya tegang, tangannya pucat (ho oh, gak tau kenapa tangannya yang pucat, bukan mukanya). Dia menggeleng-geleng, “Gak bisa.”
Setir masih berat banget, dan lampu dasbor semua menyala. Kami langsung menelepon Halo Suzuki (1800-1100-800) dan diterima oleh CS yang responsif. Aries kembali ke mobil untuk mengetes, ternyata semua normal lagi. Kami sedikit tenang, namun tetap waspada dan mencari-cari info tentang kemungkinan kerusakan.
Malam itu saya nyaris tidak bisa menelan burger ayam yang saya pesan. Selain kepikiran soal mobil, ini rotinya kayak karet, bo!
Masuk mobil, semua berjalan lancar, namun lampu ABS masih menyala. Aries lalu menepikan mobil untuk mematikan mesin, lalu menyalakannya lagi.

Tuesday, 14 July 2015

Wonderfully Made It Is


4 Juni 2015

2 hari terakhir liburan di Bangka. Aplikasi Period Plus di ponsel pintarku sudah memperingatkan, "your period is coming soon". Aku sudah membekali diri dengan pembalut yang kubeli di swalayan setempat bernama Puncak.

6 Juni 2015
Pulang ke Jakarta. Haidku belum datang. Agak deg-degan memikirkan kemungkinan yang terjadi. Tapi aku mencoba mengalihkan dengan pikiran, "Ah, kecapean aja kali. Sampe di Jakarta juga langsung keluar."

11 Juni 2015
Setelah tersiksa karena tak tahu betul apa yang sedang terjadi dan tidak memberitahukan apa-apa kepada suami, aku memutuskan untuk membeli test pack hari ini. Yang fleksibel, tidak harus urin pagi, kataku kepada kasir apotek.
Hasilnya, dua garis. Aku tidak yakin harus bereaksi apa. Dibilang kaget juga tidak, karena aku sudah menyangka hal ini. Mungkin lebih kaget karena, kok bisa ya? Mengingat proteksi yang kami lakukan sepertinya sudah cukup rapat.
Malamnya, aku memberitahukan kabar itu kepada suami. Dia kaget, karena aku sempat liburan hampir 3 minggu di Bangka, berdua saja dengan Ben, berarti sebelum itu sebenarnya aku sudah hamil. Kami memutuskan, ini memang jawaban dari Tuhan, karena selama ini kami mengulur-ulur terus kapan punya anak kedua.

16 Juni 2015
Periksa ke dr Radit, Grha Kedoya. "Selamat, Bu, sudah hamil 5 minggu." Dokter menunjuk ke sebuah kantong kecil di layar USG. "Makan dalam porsi kecil, tapi sering aja, 6-8 kali," sarannya.
Sempat terjadi drama, karena obat penguat yang dia resepkan (Utrogestan) ternyata membawa efek samping yang membuatku pusing dan drowsy berat. Besoknya, obat itu langsung aku tukar dengan Dupasthon.

Monday, 2 February 2015

Challenging Myself


Been wandering way too long. I need to go back.

Sepanjang mataku melihat, perjalanan ini masih begitu jauh dan ... tidak jelas. Tapi aku harus mengambil langkah, sekecil apa pun itu. Karena 1 langkah pun berarti aku tidak diam saja di tempat.
Aku harus bangkit lagi, merengkuh kembali apa yang menjadi gairahku, yang membuatku merasa hidup, yang membuatku tak sabar untuk membuka mata di pagi hari dan menantikan apa yang telah disediakan Tuhan bagiku sepanjang hari itu.

Langkah bayiku dimulai dengan latihan fingering di piano. Bukannya aku bercita-cita ingin jadi pianis atau merasa diriku akan menjadi pemain piano ternama, tapi aku sadar, aku dikaruniai bakat. Memang bukan bakat yang outstanding, tapi I humbly admit, aku cukup cepat menangkap lagu baru dan langsung memainkannya, hanya dengan modal mendengar. Ya, aku harus bertanggung jawab atas talenta ini.

I am a natural pessimist. Ini lumayan memalukan, tapi jujur, aku sering berpikir, apa perlunya berjuang mati-matian, mau jadi ini mau jadi itu, toh nanti kita semua mati juga, dan semua pencapaian kita tidak ikut ke liang kubur. Yeah, so pathetic, I know. Buat apa mengembangkan bakat? Ituuu... udah banyak penulis muda yang bermunculan dengan karya mereka - yang kadang ajaib-ajaib itu - di rak-rak buku Gramedia.

Then I remembered the story of a lord and his servants in the Bible, tepatnya di Matius 25:14-30. Tuan ini memberikan talenta (pecahan mata uang zaman itu) kepada tiga hambanya, masing-masing dalam jumlah yang berbeda - sesuai kesanggupannya, demikian tertulis di Alkitab. Setelah memberikan uang, sang tuan pun pergi ke luar negeri. Hamba yang mendapat 5 dan 3 talenta mengembangkan 'modal' yang mereka miliki, dan berhasil mendapatkan untung 2 kali lipat. Sedangkan yang mendapatkan 1 talenta menguburkannya begitu saja. Setelah sang tuan pulang, tak ayal, si hamba pemalas ini mendapat hukuman yang mengerikan, sedangkan dua hamba yang rajin diberikan hadiah tambahan.

Cerita ini benar-benar membuatku terhenyak. Kisah kuno, sudah kudengar berkali-kali, tapi baru kali ini sungguh nyata menamparku. Aku adalah hamba yang malas itu! Sudah dibekali dengan talenta, tapi tidak mau mengembangkannya, dan malah asyik dengan kehidupan sendiri.

It's my move. Aku harus bergerak, bangkit sekarang.

Langkah bayi keduaku adalah ini; menulis di blog ini, setiap hari, hingga 30 hari ke depan. Whatever it is, however long it is.
YEAH!


Monday, 24 November 2014


My sister is married now.

Well, yesterday was the precise date, 22 November 2014, when she was married to the love of her life. They have been through ups-and-downs, tears and laughters, so many things I believe that had made them grow even stronger in commitment.

It is pretty strange that she no longer lives in this house. I've been used to living with her like for ages. Though we didn't see each other very often, didn't really chat very deeply, yet I knew, she slept next to my room, and whenever I heard her voice, I knew she was home safely.

There are some things that I might found them annoying, as her habits of using like 2 or 3 glasses in a day, how she put her things anywhere, unfinished meals in fridge and sometimes they would be left decaying inside. Honestly, I was a bit relieved knowing I wouldn't encounter those things anymore.

But now she is truly gone, I felt a small thump in my core. Like a little hole there. My parents would go home too by this Friday, and soon I would be alone with my boy again during the daylights.

I'm happy for you, lil sis. I hope you have a very happy married life!!! But I already missed you :'(



Wednesday, 23 April 2014

A bittersweet goodbye

Honestly, I'm not proud of how I end it. Not the way I imagined, not how I planned it to be. Although he accepts it quite smoothly, still, I'd prefer another way - a gentler way - should I be given another chance.

I'm talking about a wonderful, honorable journey of a mother; breastfeeding.

After gathering like a lot information through the Internet, about 3 years ago, I determined to breastfeed my baby. And I made it. Through ups and downs (namely, engorged breasts, nipple blisters to an underweight baby).

I tried to keep up with the WHO's recommendation, like no water and solid before the baby is 6 months-old, and keep breastfeeding until at least he is 2 years-old. And I did. More.

Saturday, 12 April 2014

Yesaya 54

So, last night was a bit rough, we talked about our future. He didn't feel supported. Well, I didn't respond to his explanation about the plan, so I knew I was wrong :(

Anyway, we have talked about it, and (hopefully) solved it.

Well, however, that night, before I dozed off, an old song came to my mind, only the first part of the lyrics. I didn't remember the whole song though, so after looking for it in YouTube, this is the song.

And the verses really made my long-gone tears rolled down my cheek.

Sunday, 6 April 2014

No Kids Allowed (?)

Tadi malam gw makan di Bakso Wang, Ruko Crystal, Gading Serpong. Tempatnya sederhana, dindingnya dihiasi poster-poster makanan (yaiyalahya masak poster model rambut), juga beberapa pesan dan rekomendasi pemilik yang lucu dan ringan bahasanya.

Nah, tadi itu si Ben makannya hopping tables. Untung yang makan di sana cuma kami (kita bertiga sama Ci Devi dan krucils), tapi gw cukup haleluya juga ngejer Ben yang beberapa suap sekali pindah meja. Seorang mbak pelayan pun berkomentar, "Wah, makannya jalan-jalan nih." "Iya nih, pindah-pindah meja dia," sahut saya.

Di meja terakhir, saat lagi menyuapi Ben, tau-tau saya didatengi si mbak. Dia meletakkan dua boneka clay Smurf kecil di depan Ben dan bilang, "Nih, buat mainan." Daaann Smurf pun sukses membuat Ben duduk anteng di tempat sampai suapan terakhir :D

Saturday, 30 November 2013

Why bringing a child into this world?

Selepas melahirkan hampir 2 tahun yang lalu, beberapa lama waktunya saya sempat dilanda kegelisahan.

Kenapa saya mau hamil? Kenapa saya mau melahirkan satu lagi anak manusia ke tengah dunia yang kacau dan semrawut ini?

Jujur, saya sempat merasa bersalah tiap kali melihat wajah lucu Ben yang sedang tertidur pulas dengan mulut setengah mangapnya itu. "I'm sorry, Son." Begitulah batin saya hampir tiap hari.

Saya merasa bersalah, karena saya kira, gara-gara sayalah, dia bisa ada.

SOMBONG BANGET SIH. Soalnya, kalo Tuhan sang Maha Pencipta tidak berkehendak, toh Ben gak bakal hadir.

Berbekal kesadaran itu, saya pun menekan kegelisahan saya tersebut. Saya putuskan untuk percaya sepenuhnya, bahwa Dia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.

Hingga saya menonton video ini. (Bukan iklan, lho, ya.)

"The world needs more good guys. And I'd like to think that our baby will be one of the good guys," kata seorang calon bapak berjanggut tebal dengan wajah sumringah.

Kalimat sederhana itu membangunkan kembali sesuatu dalam hati saya. Sesuatu yang sudah lama tertidur, terkubur di bawah segala kecemasan saya.

Sesuatu itu bernama, harapan. Dan harapan adalah apa yang saya letakkan dalam diri Ben. Harapan agar dia menjadi orang yang baik, menjadi orang yang berdampak pada orang lain, bahkan dunia ini.

Malam ini, ketika saya menonton dia asyik bermain sendiri, tiba-tiba kalimat ini muncul dalam hati saya.

"When you bring a child into the world, you are bringing another hope into this world."

Ya, karena dunia ini masih punya harapan. Bangsa ini masih punya harapan. Masih ada orang-orang baik. Masih ada calon orang-orang baik, seperti anak saya nanti (yes, amen!)

Jadi merinding sendiri, karena itu berarti pula, saya punya tanggung jawab superberat untuk mendidik anak saya agar benar-benar tumbuh menjadi harapan, bukannya menjadi beban. Gak muluk-muluk lah, bukannya pengin dia jadi tokoh dunia or what, setidaknya, dia akan tumbuh jadi anak yang tahu sopan-santun, buang sampah gak sembarangan, ramah pada semua orang tanpa diskriminasi, tahu berterima kasih, bisa meminta maaf dan mengucapkan kata 'tolong', tepat waktu, dll dll.

I'm not gonna let this world take over my children. For in their hands are the power to change this world. To put back what has been taken.

This is for you, Benedict.

Dan untuk adikmu kelak.

Sunday, 25 August 2013

In His time

Kadang, kalo lagi ngebaca update teman-teman di Facebook tentang toddler mereka, saya suka panik sendiri. Panik apakah saya bisa mendidik Ben secanggih mereka mendidik bocah-bocah mereka, panik apakah saya terlalu santai sekarang dalam mengajari dia.

Rasanya selalu saja ada yang kurang, dan jujur hal kecil sekalipun bisa bikin saya murung dan senewen. Psst, menurut salah satu tes yang dulu ngetren di Facebook, saya emang orangnya neurotic, wkwkwkwk.

Saturday, 1 December 2012

memory or dream?

[caption id="attachment_192" align="alignright" width="240"]bukunya om piring beserta kata2 mutiaranya :D bukunya om piring beserta kata2 mutiaranya :D[/caption]

Belakangan ini gue suka kangen rumah tempat gue dibesarkan di Bangka. Gue kangen sama masa-masa gue sekolah dulu.

Kangen sama sore-sore gue ngayuh sepeda ke SD Santa Agnes untuk nongkrong di perpustakaannya.

Kangen mikirin mo jajan apa hari ini dengan uang saku yang super ngepas dari Mama.

Kangen jalan rame-rame sama temen-temen SMP ke SMP Negeri 1 yang paling nge-hits waktu itu.

Beberapa hari yang lalu, entah lagi nonton apa gue lupa, salah satu tokoh di serial TV ngomong gini, "Ada pepatah: 'as you get older, memory is more important than dreams'."

Gue pun langsung termangu-mangu dan membatin, "Kalo gitu gue emang udah tua dong!"

Seriously. Rasanya sekarang pengen banget gue angkat koper, angkut BabyBen dan geret suami balik ke Bangka. Back to my hometown, with my parents, which I know, is not possible now. We need to raise our own family, I know.

Wednesday, 9 May 2012

Style comes first

I still can't get people who have edgy gadgets but cannot do simple browsing to look for the information they need.
Well, cannot or simply lazy?

And of course, I really really can't get people who keep stating they don't have money (or indeed), but able to hang out at sophisticated coffee shops, buy new gadgets or stuff, able to afford more-than-decent holidays!
One person I asked answered this, "Style comes first!"
Oh, o-oookay. So don't you ever think I'm gonna believe you let alone sympathize with you when you start to whine, "No money laaarr..."
Eat your style!

Free lunch!

Sejak punya baby Ben, kita rada kepentok transport kalo mau ke mana-mana. Gue belum sampe ati bawa Ben naek motor jauh-jauh, kasian dia kena asep dan panasnya Jakarta. Kalo masih deket-deket kayak ke CP ato TA, masih oke buat naik motor.
Nah, karena gereja kita lokasinya nun jauh di sana, terpaksalah kita berpikir ulang buat tetep ibadah di situ apa ga. Ongkos taksi sekali jalan bisa 45 ribu, pp ya ampir 100 ribu. Kali 4 ud 400 ribu, lumanyun banget kan. Ada ibadah yang bisa ditoleransi dengan naik motor ke sana, tapi gue ga sreg. Akhirnya jatuh pilihan ke ibadah di sebuah hotel di bilangan Slipi.
Temen baek gue kebetulan di sana, dan dia emang suka ngajak kita ke sana. "Dapet makan duey," begitu promosinya. Karena dirasa cukup dekat, ya kita coba deh ke sana.

Tuesday, 24 April 2012

never thought of it

But...

I kinda miss being pregnant again.

Looking great with that protruded tummy, being spoiled by people around, having me-time anytime I want, sleeping whenever I wish, doing what I want to do...

Oh but not that soon!

Saturday, 14 April 2012

I can do this now!

Baby Ben 3 mos 1 week

Tuesday, 4 August 2009

if only i could turn back times

"Jika kamu bisa memutar waktu dan kembali ke masa lalu, apakah yang ingin kamu ubah?"

Biasanya, setiap kali saya dapet pertanyaan kayak gini, pasti saya jawab: "Nope, yang mesti terjadi ya sudah terjadilah."

Tapi gak tau beberapa hari ini rasanya saya berubah pikiran. Ada, ada yang ingin saya ubah.

Misalnya, 2 tahun yang lalu...

Ketika waktu itu dia meninggalkan saya di ruangannya karena lagi sebal dengan saya dan lagi kesengsem dengan kucing itu.

Waktu itu saya menunggu dengan patuh, menelan segala kebohongannya dengan satu intimidasi, "Lu gak percaya ya sama gua?"

Seandainya saya bisa kembali ke masa itu, saya sudah tahu apa yang akan saya lakukan. Saya akan keluar dari ruangannya, mengemasi laptop saya, pamit pulang pada teman sekerja saya dengan any excuse I can make, memanggil taksi, dan baru mengirimkan SMS kepadanya saat taksi sudah jauh dari kantor. Bunyinya begini, "If you really can't stand seeing me, I'll do you grace by leaving and give you limitless time with her. Goodbye."

There. If only, if only I had guts to do that... Tapi waktu telah bergulir tanpa bisa ditarik kembali. Dan semua yang telah terjadi memang seharusnya terjadi. Meninggalkanku dengan bekas-bekas luka yang belum cukup sembuh hingga saat ini.

Wednesday, 28 May 2008

uugh!

uugh!





Sejak siang rasanya sudah bete. 
Sore udah lebih tenang, ditambah bisa punya waktu bersama yayang. Bisa ngobrol, becanda-becanda (nih cowok ya, lg stres jam 1 pagi pun masih aja bisa ngebanyol).
Malamnya, tetap asyik. Eh, tapi tau2... bete lagi.
Sebenernya sih gak mungkin tau-tau gitu aja... Tapi honestly, ada orang-orang, dengan caranya, entah bicara atau bertindaknya, yang buat orang (baca: aku) merasa sangat gak nyaman dan bete.
Kalo udah gitu, belum ditambah kerjaan yang belum kelar dan mati lampu seharian, kepalaku langsung nyuuut nyuuut rasanya. Belum pernah nyoba sih, kalo misalnya dikasih minuman yang katanya bisa membantu menenangkan stres itu aku bisa jadi lebih tenang dan sakit kepalaku berkurang. Only I know, I can hate myself when I'm in the state of this. Uuughh!!!


Thursday, 22 May 2008

omigod

astaga dwey....

masih berjengit membaca namanya??? norak banget sih lu!!!

Thursday, 15 May 2008

it's my bday

2 hari yang lalu, aku berulangtahun. Dan ini adalah tahun kedua aku belajar mensyukuri arti ulangtahun. Terlalu terlambat untuk usiaku yang sudah 28 tahun? Hm... rasanya tidak. Untuk hidup yang lebih berarti, rasanya baru 2 tahun bukan waktu yang terlalu lambat.

Semua menebak dengan ceria, bahwa ini tahun paling berkesan karena di ulangtahun ini aku tidak lagi sendiri. Sudah ada seorang pendamping dalam hidupku di tahun ini. Yah, ada benarnya sih! Can't deny that, tho :) Dia sungguh berkah dalam hidupku.

Namun ada hal lain.... Anak-anak manis yang berkorban menempuh jarak dari Sunter ke Pantai Mutiara demi memberikan surprise untukku. Thank you girls, you all are wonderful!

Dan... ketika tiba di pagar rumahku, kejutan kembali menanti. Sebungkus kado tergeletak di sana. Tak ada nama pemberi. Tapi wangi (tepatnya bau, hehe) parfum mobil yang masih tersisa tak bisa membohongi. Aah... benarkah ini dari dirinya? Sungguhkah dia mengorbankan waktunya yang tak banyak itu, memilih untuk tidak menempuh jalan cepat dan memutar demi membawakan kado ini? Keyakinanku begitu kuat jadi aku nekat membuka bingkisan itu. Benar saja. Seperti biasa, dia hanya menulis di atas kertas sederhana. Namun kata-katanya tidak pernah bisa berpengaruh sederhana dalam hatiku. Can you believe, I cried when I read his words. Sungguh-sungguh menangis. Karena aku (baru) menyadari, betapa aku mengasihinya, betapa aku menyayanginya, betapa hidupku sudah begitu banyak berutang padanya. Orang yang selalu menganggap dirinya bukan apa-apa, padahal lewat hidupnya, banyak orang berubah. Orang yang sudah kuanggap kakak, bapak sendiri.... Orang yang membuatku tertawa, menangis, lalu tertawa lagi. Orang yang membuat hidupku jadi lebih berarti. Orang yang membuatku selalu ingin memberi yang terbaik.... I'm deeply influenced by him.

Dan esoknya, another surprise has awaited. Di tengah syuting buat presentasi ke Brazil, one of my colleague, Juned, mengarahkanku untuk share apa yang kudapat di ultah kali ini. Thinking this as a part of shooting , so I told my story. Tapi sungguh aku kaget ketika Juned menginstruksikan teman-teman yang lain untuk mendoakanku. Wow. And they were serious. I don't know... but it felt like a good-bye prayer.... Will I leave them soon? I don't know. What I know, this year, God is returning my hope, my dream. And I'm about to fulfill it. I will. I will!

And so... thank you everybody who loves me... especially for mon ange, I'm really touched by what you've done for me. I love you!

Wednesday, 7 May 2008

aku merasa sangat sendirian & tak tahu harus bagaimana...

Oke, itu memang dikutip dari lagu BCL...

Rasanya sangat mewakili perasaanku. Aku merasa sangat sendirian... aku tak tahu harus bagaimana...

Tak tahu bagaimana mengalahkan perasaan kesepian, tersingkirkan dan tertolak ini. Kadang-kadang rasanya seperti tak dianggap ada, rasanya seperti dipinggirkan. Ah, hidup itu memang seperti roda besar, kadang-kadang kau di atas, tapi mungkin seringkali kau di bawah...

Aku sedih ketika aku tak bisa tertawa bersama, tak bisa mengerti apa yang sedang dibicarakan...

Apakah aku yang aneh hingga aku tak dianggap???

Aku hanya merasa begitu... ya.. sendirian.

Dan aku merasa bersalah padamu, mon ange.... Aku tak ingin kamu ikut merasakan kepedihan yang tak enak ini. Kamu layak berbahagia...

Just... sometimes I feel so... apa ya... not in the circle. What should I do?

What, oh, Lord? Where do I belong?

Friday, 25 April 2008

now I close my mouth when I laugh

Sejak kapan gerangan??? Aku pun tak tahu. Yang pasti, tiba-tiba aku menyadari kalau setiap kali tertawa aku refleks menutup mulutku. Kenapa? Gigiku tidak ompong, tidak keselip cabe ijo ato suwiran daging. Kenapa? Padahal dari dulu aku selalu senang tertawa dengan mulut terbuka lebar, tak takut apa-apa, tak takut terlihat konyol, tak takut terlihat gembira.

Tapi, apa yang terjadi sekarang? Dan ketika kurenung-renungkan... rasanya aku mendapat jawaban ini. Jawaban yang sebenarnya tak kuharapkan, karena aku tak pernah mengharapkan sesuatu yang terlalu mudah, simpel... I've just been hurt. Aku hanya pernah terluka, lagi, dan lagi, dan lagi, dan itu menimbulkan bekas tak terlihat tapi akan langsung mendera tubuhku dengan jutaan kenyerian setiap tersentuh.

Dan pelan-pelan, hatiku pun membeku. That's it. Aku jadi sulit percaya ada orang yang menyayangiku, mengasihiku. Buatku, perkataan mereka, tindakan mereka, itu hanya karena didasari oleh kewajiban, keharusan. Yah, sudah seharusnya begini, sudah seharusnya begitu. Tapi apakah hal itu dilakukan karena jauh dalam hati mereka, mereka menyayangiku? Karena mereka ingin yang terbaik buatku?

Nah... it's too marvelous to believe. See? Yang paling mengerikan dari hati yang pernah kecewa adalah hilangnya kemampuan untuk menerima kasih dari orang lain. Mengampuni? Gak masalah, bisa pada akhirnya. Nanti. Percaya kalo dirinya (pantas) dikasihi? Eits, tunggu dulu.... Don't you know, gue ini pernah dibilang gini-gini-gini. Gue pernah diperlakukan gitu-gitu-gitu. Yang bener? Gue ini itu-ini-itu lho.

Hmmph... kapan ini semua akan berubah? Mungkin nanti, ketika saat aku tertawa aku tidak lagi menutup mulutku.