Showing posts with label trip. Show all posts
Showing posts with label trip. Show all posts

Tuesday, 24 November 2015

Hotel Serela Waringin, Bandung

*disclaimer:
this review is in English, since I posted it first in TripAdvisor .

To be honest, I can't really decide what to feel regarding my stay here. To keep it short, I'll go by TripAdvisor's guide to writing a great review :p

1. The Service: 9 point from me. They were friendly, fast-responding, I'm particulary impressed by the restaurant staff lady who convinced me that they were able to provide me with plain rice, then that they only served fried rice and yellow rice.
2. The Room: 8 from me. I stayed in a superior room, it's rather small, but not with just basic facilities. I loved the bed, it was super comfort! The bathroom is equipped with two types of shower.
3. Location & amenities: near Pasir Kaliki a.k.a. Paskal, so it's kinda easy for you to travel here and there. There are Indomaret and Alfamart right next to the hotel, some chinese food restaurants - a bit pricey, though.
4. What I liked best: 
I loved how they provide a hairdryer in the bathroom! Oh, also the cottonbud. I mean, those trivial yet thoughtful things.
I adored Mr Julius, the security guy who's working hard to make sure the cars go in and out easily.
I liked the restaurant, they serve somewhat various tasty food.

What I liked least:
They forgot to put the sandals in the room, but they quickly fixed it.
The parking lot is too cramped, and the exit is also the entrance! So, when we checked out on Sunday (they host a church there), it was almost like a traffic frenzy for poor Mr Julius.
The hot water didn't really come out as "hot", it was almost lukewarm. But it was fine by me, as long as it didn't make me freeze.
The pool water was too cold! Or maybe it was like that in every hotel in Bandung?
Oh, and the worst, they said they provide free wifi in every room. Nah, it didn't work in my room (2nd floor). I had to stand by my door just to get an average connection! Luckily, my 3G connection was good in the room.

Overall, I gave Serela Waringin 7,5 out of 10.




Summerbird and Brasserie, Bandung (review singkat)

Waktu mencari penginapan untuk perjalanan ke Bandung akhir pekan kemarin, saya sempat nyangkut di Summerbird ini. Foto-fotonya cantik banget soalnya. Belakangan, saya belajar, apa yang terlihat di layar tak selalu seperti kenyataan langsung di depan mata.
Bukannya Summerbird gak bagus, lho. Gak nyangka aja, lokasinya bukan di tempat yang seasri yang saya pikir. Restorannya pun imut-imut banget, tapi memang sepertinya tempat-tempat di Bandung itu diberkahi dengan karakter fotogenik, deh.
Sebenarnya Summerbird bukan pilihan utama kami. Tadinya kami mau ke Noah’s Barn, sesuai permintaan Sylvi. Tapi ternyata terjadi miskomunikasi, Sylvi yang duduk di depan dan Aries yang menyetir tidak tahu bahwa Noah’s Barn punya cabang, dan cabangnya di Jalan Dayang Sumbi punya desain interior yang menarik hati Sylvi, sementara kami berhenti di depan Noah’s Barn di Jalan Garuda. Tet tot. Setelah tahu Noah’s Barn yang ini tidak menyediakan main course, kami pun berganti tujuan ke Summerbird.

Miss Bee Providore (review from a new fan)


Foto-foto cantik Miss Bee yang bertebaran di review di Internet sukses membuat saya terpincut (dasar makhluk visual) dan memasukkan tempat tersebut ke dalam daftar tempat yang saya ingin kunjungi dalam liburan ke Bandung akhir pekan kemarin. Selain itu, nama sang pemilik, yaitu @jenzcorner, memberi saya jaminan mutu bahwa tempat ini bukan tempat abal-abal. Yup, @jenzcorner, food blogger nan kondang itu.
Setelah menempuh perjalanan yang mendebarkan (baca di sini) selama kurang lebih 1 jam dari Food Market Lembang, tiba juga kami di Miss Bee dengan selamat. Parkiran sudah hampir penuh, dan antrean sudah 10 nomor (menurut informasi pak satpam yang tanggap).
Kami bergegas menaiki tangga mendaki bukit rendah untuk tiba di restoran. Di bawah Miss Bee ada Rabbit Hole, sebuah tempat makan juga, saya kurang tahu apa specialty-nya. Sampai kami pulang, sih, tempat ini masih lengang, berbanding terbalik dengan Miss Bee yang ramai.
Kesan pertama, tempat ini tidak seluas yang tampak di foto-foto di blog. Kesannya malah agak imut, tapi asri. Bayangkan, sebuah rumah tua di atas bukit, dengan pemandangan hutan dan ditemani gerimis, aihh….

Floating Market Lembang (review alakadarnya)

FML menjadi tempat tujuan pertama kami dari Jakarta. Kami tiba di tempat ini dengan selamat setelah mengikuti petunjuk Mbak Google Maps (MGM), lewat jalan-jalan kampung.
Sampai di sana kurang lebih pukul 10 pagi, masih belum terlalu ramai.
Sementara saya menemani Sylvie membeli simcard Simpati untuk tabletnya, Aries dan Ben menuju wahana bermain air. Ben langsung menunjuk sepeda air.
Sambil menunggu bapak dan anak yang sedang seru ngegowes, Sylvie membeli sosis, dan saya menukar koin untuk Ben masuk tempat kelinci.
Sebelum mengunjungi kelinci, Ben naik kereta dulu (saya digratiskan, padahal ada bapak-bapak yang menemani anaknya tetap bayar, hihi). Kereta mengitari taman kecil sebanyak 2 kali. Senang sekali dengan lagu-lagu yang diputar dalam kereta, lagu-lagu daerah dan lagu anak-anak yang asli.
Masuk ke tempat kelinci, saya hampir histeris melihat banyaknya kelinci yang lucu dan menggemaskan. I’ve got this Alice-in-Wonderland feeling here, hahaha. Mereka bebas berlarian masuk ke gorong-gorong kecil, rumah-rumah kecil. Sementara Ben sibuk mengejar kelinci untuk memberi makan wortel, saya sibuk berburu buah ceri kampung (bukan, bukan cherry). Agak sayang sih, kelinci-kelinci tersebut sudah pada kekenyangan, yah, abis gimana, mereka diberi makan sebebasnya dan tanpa jadwal. Itu salah satu sebab saya secara pribadi mem-ban K*nt*m Nursery, karena para pengunjung dibebaskan untuk memberi makan binatang-binatang di sana. Kasihan!
Kami makan siang di sebuah restoran Sunda, lupa euy namanya. Ada paket nasi timbel, harganya kurang lebih 45 ribu.
Overall, FML ini cocok buat wisata keluarga. Tempatnya terawat rapi (di mana-mana banyak petugas yang rajin membersihkan dan menyiangi rumput), ada tempat main anak, ada tempat makan, cuaca sejuk. One-stop family leisure park, gitulah.
Ponten 8 dari saya!


HARGA
Tiket masuk per orang            : 15 ribu (bisa ditukar dengan welcome drinklemon tea, Milo, kopi, teh. Yang dingin hanya lemon tea.)
Tiket parkir mobil                   : 10 ribu
Tiket sepeda air                      : 50 ribu
Kasih makan kelinci                : 20 ribu per orang
Naik kereta                              : 30 ribu per orang





Off We Go to Bandung!

31 Oktober 2015

Beberapa waktu yang lalu, Sylvie mengajak jalan-jalan ke Bandung. Kami langsung menyambut rencana ini dengan gembira. Tanggal pun ditetapkan, yang pasti setelah gajian, yaitu 7-8 November mendatang. Bagian terseru dari jalan-jalan bagi saya adalah tahap perencanaannya. Hm, tepatnya, tahap risetnya. Hihihi, serius amat ya, mau jalan-jalan aja pake riset. Tapi, ya begitulah saya. Cari tempat jalan-jalan, dan yang paling menyenangkan, mencari tempat menginap. Duh, penginapan-penginapan di Bandung itu lucu-lucu! Ini di luar hotel ya, yang tentu saja standar secara bangunan dan fasilitas. Di Jakarta juga bisa ketemu penginapan sekelas itu. Tapi kalo penginapan dengan kamar dekor imut-imut, sepertinya bakal susah kalo gak di kota kreatif seperti Bandung ini. Ada Frou-frou Room, Summerbird, xxxx. Tapiiii, mengingat kali ini kami tidak bepergian sendiri, tentu harus mempertimbangkan aspek kenyamanan peserta lain ini. Pusing pala baby, makanya saya sebenernya paling males kalo harus bepergian ramai-ramai. Karena ya itu, mensinkronkan otak saya sendiri aja kadang repot, ini lagi harus mensinkronkan dengan otak-otak lainnya. Ya, kita tunggu minggu depan ya!

24 November 2015
Hola! Am back from Bandung trip! It was a fun trip, indeed!
Dimulai pada sekitar pukul 06.15, Sabtu, 21 November, Aries yang sepertinya cocok jadi inspektur bootcamp sudah melajukan mobil. Berhenti sebentar di rest area supaya Cicik Sylvie bisa beli kopi, kami masuk Lembang kira-kira pukul 09.30. Sengaja memilih rute Lembang terlebih dahulu, karena tujuan pertama kami adalah Floating Market Lembang (review di sini). Biasa, demi anak.
Setelah makan siang di FML, kami melanjutkan perjalanan ke Miss Bee, yang berjarak tidak terlalu jauh dari sana. Bermodal MGM (Mbak Google Maps), dengan penuh percaya diri kami langsung tancap gas. Eh, baru juga keluar lokasi FML, ternyata sudah ada petugas yang mengarahkan ke kiri. Padahal MGM mengarahkan kami ke kanan. Namun, berhubung jalan ke arah kanan ditutup entah karena apa, mau tak mau kami ke kiri, dan blas! We were like in the middle of nowhere. Gak nowhere-nowhere banget sih, masih ada perkampungan, dengan jalanan yang sempit dan supercuram. Ada sebuah mobil di depan kami, dan kami yakin, mereka juga berpegang teguh pada MGM. Soalnya, hanya kami mobil yang melintas di jalan ini, huahuaha. Ndilalah, setelah mengarungi jalanan yang curam, kami dihadang sebuah plang bertulis: kendaraan roda 4 ke arah Ciumbuleuit tidak bisa lewat karena longsor. Padahal, Miss Bee hanya 2 km lagi! Bukan Aries namanya kalau tidak mencobai peraturan terlebih dahulu. Dengan nekat, beliau melaju terus sampai dihentikan akang-akang di situ. “Gak bisa lewat, Pak. Longsor,” demikian infonya. Dia memberi tahu kami jalur alternatif, yang tidak kami mengerti karena kami sama sekali tidak familier dengan nama-nama tempat yang disebutkannya -.-.
Balik arah, kami masuk ke sebuah kompleks perumahan mewah yang sepertinya belum jadi. Kami bertanya pada satpam dengan patokan Hotel Padma. Beliau tampak bingung. “Padma? Hotel Chedi? Malya?”
Ha! Untung saya pernah baca kalau dulunya Padma bernama Chedi, setelah itu Malya.
“Iya, Pak! Itu maksudnya!” sergah saya.
Setelah mengikuti petunjuk satpam, kami tiba di Kompleks LIPI. Dan kami baru sadar, lhaaaa ini kan kompleks tempat sahabat kami dulu tinggal!!! What a coincidence!
Pokoknya, semua ketegangan terbayar dengan makanan dan pemandangan di Miss Bee (review di sini).
Selesai menikmati Miss Bee, kami memutuskan untuk langsung ke hotel. Perjalanan kurang lebih satu jam menuju daerah Paskal, tibalah kami di Hotel Serela Waringin (review di sini).
Malamnya kami dinner di Paskal Food Market. Sylvie yang belum pernah ke sini nyaris kalap melihat banyaknya tempat makan yang berjejer di sini. Cuaca malam itu bersahabat, sejuk tanpa hujan, ramainya juga masih beradab.
And we kissed the night goodbye with a good sleep!

Wednesday, 29 July 2015

group check-in PGK-CGK


Bulan lalu, tepatnya tanggal 6 Juni, kurang setelah lebih 3 minggu aku asyik berleha-leha di rumah Papa-Mama di Belinyu, Bangka, waktunya untuk kembali ke Jakarta, menunaikan kembali tugas sebagai istri Tuan Aries yang nelangsa ditinggal anak-istri selama itu. Bhihik.

"Beliin tiket buat 8 orang ya!" instruksi Mama.
WHAT?
Ternyata selain kami berempat (Papa, Mama, aku, dan Ben), kita ketambahan 4 orang lagi yang akan ke Jakarta pada tanggal yang sama.
Setelah drama membandingkan harga tiket di agen dan internet, kita dapet diskon lewat tiket.com, buru-buru pesen, buru-buru bayar pula. Semua dilakukan satu nama demi satu nama, supaya bisa dapet diskon tersebut. Untung jaringan 3G XL lagi lancar-lancarnya di sana, jadi gak ada kendala dalam pemesanan online.


Tuesday, 17 February 2015

Samosir -Medan Trip (3)



Sabtu, 14 Februari 2015
Pukul 09.20, kami dijemput kapal menuju Parapat. 1 jam lebih perjalanan sambil menjemput penumpang lain, kami turun di pelabuhan, dan langsung bertemu dengan agen travel yang sudah kami pesan, Bagus Taxi. Kami menegaskan untuk minta bangku tengah, apalagi setelah melihat ada 3 orang bule yang memesan mobil yang sama. Mereka kan badannya besar, takutnya mereka langsung mengambil tempat di tengah. Untunglah agen travel mau bekerja sama, “Mereka juga baru pesan tiket, kan!” demikian kata si abang. Sambil menunggu waktu keberangkatan, kami pergi ke sebuah warung kopi bernama De Karo, dan membeli kopi giling kasar 1 kilogram dan sebuah VCD lagu-lagu Batak. Si kakek pemilik warung tampak ramah dan dengan senang hati melayani kami. Warung kopi itu tampak apik dengan berbagai stiker nama negara menghiasi sudut-sudutnya, dan isinya pun kebanyakan bule. Kami meninggalkan warung itu dengan hati riang. Setiba di Jakarta, Aries iseng menimbang bungkusan kopi, dan fakta menunjukkan bahwa si kakek mengurangi 100 gr dari hak kami. Kampret.

Samosir-Medan Trip (2)

Tuk-Tuk Hari 1
Kami tiba di penginapan sekitar pukul 6 malam, pihak hotel mempersilakan kami bersantai terlebih dulu. Aries memutuskan untuk nyebur dan membawa Ben. Sayangnya, Ben mungkin masih belum fit (habis demam sebelum pergi), dia pun menangis meronta-ronta, akhirnya menolak masuk danau hingga hari terakhir L Lumayan ngeri juga sih kalo gak bisa berenang, soalnya arusnya rada kenceng dan dalam. Sepertinya kami adalah satu-satunya tamu orang lokal alias sesama orang Indonesia. Lainnya bule, tapi sepertinya kebanyakan mereka bukan English speaker. Buku-buku yang disediakan di rak restoran pun 98% berbahasa non Inggris :D Entahlah itu bahasa apa, mungkin Jerman. Oya, ada satu buku berbahasa Indonesia: Pelajaran Geografi untuk kelas 5 SD. Entah tahun berapa buku itu. Kami berjalan-jalan sebentar, tapi tidak menemukan apa-apa, dan karena hari sudah makin gelap, kami pun kembali ke kamar.

Samosir-Medan Trip (1)



Kamis, 12 Februari, pukul 6 pagi, kami bersiap meninggalkan Jakarta melalui bandara Soekarno-Hatta. Taksi BlueBird yang kami pesan datang tepat waktu, dan mengantarkan kami tiba di bandara kurang lebih 45 menit lamanya. Karena sudah mobile check-in, saya langsung menuju counter Garuda Indonesia yang paling sepi (dengan tulisan waiting list passengers) dan menunjukkan ponsel saya pada petugas di sana. Tepatnya, isi SMS yang saya terima dari Garuda. Tak sampai 5 menit, boarding pass pun saya terima.
Perjalanan dengan Garuda selalu menyenangkan. Saya nonton film Tabula Rasa (2014) hampir sepanjang perjalanan, sayang belum selesai, pesawat sudah mendarat di Kuala Namu International Airport. Kesan pertama saya saat menginjakkan kaki di sini, wah, gede dan mewah banget. Saya harus menjelajahinya nanti waktu hari keberangkatan kembali ke Jakarta, tekad saya, yang terburu-buru karena ingin mengejar kendaraan menuju Siantar.
Seperti yang disarankan dalam blog seseorang, melangkah saja dengan tampang yakin, jangan terlihat bingung. Banyak sekali abang-abang yang akan mendekati Anda dan menawarkan kendaraan mereka. Jangan tergoda! Jika Anda seperti saya yang ogah mengeluarkan uang banyak sementara ada alternatif lain yang relatif lebih murah, segeralah melangkah keluar, carilah plang besar bertuliskan “Bus”, dan carilah kendaraan dengan label Paradep. Saya mendapat mobil Avanza, berkapasitas 7 orang penumpang dan 1 supir. Saya, suami, dan anak (dihitung full, karena itu dia berhak selonjoran di kursi), membayar 165 ribu untuk perjalanan 3 jam lebih ke Siantar. Mobil berhenti sejenak pada pukul 12 kurang di sebuah tempat makan sangat sederhana. Hanya kami dan sang supir yang makan. Harga makanan juga relatif terjangkau. Saya makan nasi dengan lauk ikan dan sayur lontong dikenai 15 ribu.

Friday, 22 November 2013

Day 3, Kuala Lumpur Trip, 16-19 November 2013

Hari ini kita mo ke IKEA! Yeay! Salah satu main destinations kita ke sini.

Setelah mengumpulkani informasi dari mana-mana, termasuk dari temen yang sempet sebulan tugas di KL, finally, I present you:

CARA KE IKEA DAMANSARA (abis kayanya rada susah cari info ini di Internet, bok):

1. Naik LRT alias jalur Kelana Jaya (jalur merah), turun di stasiun terakhir, Kelana Jaya.

2. Keluar stasiun, naik 1 lantai, menyeberanglah di jembatan penyeberangan. Di situ sih ada terminal bus Rapid KL, ada juga yang mengarah ke IKEA, tapi berbayar. Kita mo cari free shuttle-nya.

3. Nah, di seberang sini ada tempat menunggu bus. Tunggulah dengan manis di sana, kalo masih lama, bisa jajan-jajan dulu di pertokoan di belakang. Ada Sevel, resto pizza (forever I owe you for providing free wifi that is accessible even by standing outside :D). Jadwal free shuttle-nya bisa dilihat di sini.


Note: yakin pede aja pas nunggu free shuttle, soalnya gak semua orang situ tau klo ternyata disediain free shuttle ke IKEA. Oya, IKEA itu terletak di dalam pertokoan IPC (Ikano Power Center), jadi klo mo nanya, bisa aja nyebutnya ke Ikano. Di badan shuttle busnya juga tertulisnya free shuttle to IPC. Lama perjalanan kira-kira 15 menit. Busnya nyaman, ber-AC dan menampung cukup banyak penumpang. Mirip dengan free shuttle bus yang disediain Summarecon Serpong.

Always, always love this place :) Sayangnya, di sini Ben agak rewel :( Gabungan laper-tapi-gak-mau-makan dan ngantuk-tapi-gak-mau-bobo plus belum-pup. Sama karena kita tarik paksa dari mainan kompor-komporan dan lampu sih, hehe. Alhasil, setelah dia pup, barulah dia tenang dan tidur pulas di stroller

Day 2, Kuala Lumpur Trip, 16-19 November 2013

Hari ke-2!

We decided to go to the famous Petaling Street & Bukit Bintang.

First destination was Central Market. Hmmm, this is just not my cup of tea :D Mirip sama lantai bawahnya Jungceylon di Phuket. Semua suvenir (khas) kota ini bisa ditemuin di sini. About the price, gak tahu juga. Kalo yang di Jungceylon sih emang pada suggest beli di sana aja, karena harganya bisa lebih murah dari yang di luar mal.

Kami gak lama-lama di sini, cuma ngider sekali, beli jus leci 2 MYR, abis itu cabut ke Petaling Street.

Petaling St. mirip sama Pasar Baru banget. Kios-kios berjejeran, penjualnya berteriak riuh-rendah mencoba menarik perhatian pengunjung, terutama yang suku kulit pucat. Beberapa pedagang makanan yang menarik hati a.l. roasted chestnut (berangan/kastanye panggang), roasted pork (merk Loong Kee, semacam Bee Cheng Hiang), air mata kucing (jangan tertipu! Ini liang teh, Sodara-sodara!), dan mochi (but I didn't buy this). Oya, ada juga duck feet, kami beli karena penasaran, dan memutuskan untuk membuangnya setelah nyicipin that cold duck feet. Ternyata itu isinya kaki bebek yang dililit usus (dan sepertinya plus darah, eww).

Thursday, 21 November 2013

Day 1, Kuala Lumpur Trip 16-19 November 2013

Akhirnya jalan-jalan lagi! Hihi.

16 November 2013, akhirnya untuk pertama kalinya Ben mendapat cap di paspornya. 2 jam perjalanan yang relatif tenang kami lalui untuk tiba di LCCT (Low Cost Carrier Terminal) Sepang, Malaysia.

Note: salah satu FA AirAsia-nya unyu-unyu lhooo, bikin deg-degan aja deh ah. Namanya Andrew.

Sesampe di LCCT, langsung disambut dengan antrean imigrasi yang wahai panjangnya, 7 lapis berular-ular bok. Kita ngantre kurang lebih 1 jam sajaaaa, untunggg Ben gak rewel. Iya, soalnya beliau bobok, hihi. Itu petugas imigrasi hairon ya, kok pada gak ada yang ramah. Disapa “hai”, boro-boro ngejawab, natap muka kita aja gak. Tadinya gw pikir apa karena gw orang Asia juga ya, tapi bule di belakang gw yang nyapa dia pun dicuekin juga lho. Tampangnya datarrr aja kayak triplek. Sadis, mas bro.

Gw masih pede bakal gampang nemuin Skybus, shuttle berbayar yang disediain AirAsia, di terminal yang lebih mirip gudang ini. Sumpah, masih bagusan Terminal 3 kitalah. Dari blog yang gw baca, katanya semua sign jelas, kita bakal tau di mana lokasi bus itu berada. Ealah, gak ada dong. Kita pun nanya-nanya. Pada jutek lagi, cuma nunjuk, “Di luar.” Jalanlah kita kurang lebih 10 menit, ketemulah lokasi si bus, ada abang-abang India berdiri di depan busnya, pake baju warna merah bertuliskan Skybus. “Wait,” kata salah satu abang. Ternyata bus yang di depan kita ini udah penuh. Menantilah kita tanpa kepastian, hampir 1 jam, sampe bus berikutnya datang. Begitu naik pun gak langsung jalan, masih nunggu beberapa penumpang, baru menempuh kira-kira another 1 hour menuju KL Sentral. Supir busnya nyetel CD/DVD gitu dong, albumnya Kangen Band :D

Note: di badan bus ditempel beberapa stiker seperti larangan merokok, larangan makan/minum, eh, ada stiker Apple pula. Kirain becanda, ternyata bener disediain charger Apple!

Tiba di KL Sentral. Semua bayangan gw tentang stasiun ini luluh lantak dengan sukses. Tadinya gw ngebayangin central hub ini bakal kayak Grand Central Station New York (ya bukannya gw pernah ke sana juga sih, hihihi), ternyata mengingatkan akan Terminal Senen! Gak ding. Ga segitu amatlah. Keren juga kok KL Sentral, ada eskalator, disediain free courier service (tah bener tah gak), banyak tempat makan, yaaa, mirip bandara mini sih.

Dan tolong ya siapa itu yang nulis blog kalau lu gak bakal bisa nyasar di KL! Siapah!

Err, gak sih, sebenernya kita aja yang missed :D Taunya kan kita harus naik MRT ke Stasiun Tuanku Abdul Rahman, nah kita tanya orang kok semua pada gak tahu. Ternyata, kita itu harusnya naik MONORAIL ke Stasiun MEDAN TUANKU. Begitu.

Monday, 17 December 2012

Argo Bromo Anggrek (malam), tak seindah namanya

Rasanya pernyataan di situs www.kereta-api.co.id mengenai keinginan PT KAI agar penumpang KA eksekutif bisa merasa berada di dalam hotel berjalan itu terlalu muluk.

Bagaimana tidak, fasilitas yang tertera dalam situs saja tidak sesuai dengan kenyataan.

Reclining dan revolving seat system? Coret. Yang ada hanya reclining.

Dilengkapi meja statis dan sandaran kaki? Coret. Meja statis tidak ada, sandaran kaki pun ada yang rusak.

Audio/video, lampu baca dan toilet? Coret. Audio/video lumayan, berupa tayangan lagu-lagu. Lampu baca tidak ada, malah lampu gerbong yang terang benderang bikin susah tidur di perjalanan tengah malam. Toilet? Duh, yang katanya kelas eksekutif saja bisa kehabisan air, dan yang ada air pun bau pesing.

Belum lagi menyoal sampah yang berserakan di tempat duduk bekas penumpang lain. Lucunya, pagi-pagi waktu petugas sampah datang, justru penumpang yang mengumpulkan sampah dan memasukkan ke kantung yang dibawa petugas. Ini tentu sangat berbeda dari pelayanan kebersihan di hotel.

Selimut (tipis) yang dibagikan waktu awal naik (untung wangi), ditagih kembali pada saat sebagian besar penumpang masih terlelap, sebelum pukul 5 pagi. Takut diambil, Pak? Untung gue bawa selimut sendiri buat Ben.

Kalau bukan karena masalah waktu, lain kali gue pasti lebih memilih pesawat, dengan harga yang kurang lebih sama, bisa mendapat pelayanan dan fasilitas yang lebih bermutu plus jam tempuh yang lebih singkat.

argo bromo anggrek