Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Sunday, 12 June 2016

Oriental Circus Indonesia - Hanoman the Dreamer - mimpi yang patah

11 Juni 2016

Hari ini kita nyobain nonton sirkus untuk pertama kalinya.
Sebenernya udah sering denger beberapa tahun terakhir, karena lokasi penampilan sirkus biasanya di Serpong, dekat tempat tinggal kakak saya dahulu. Tetapi kayaknya sirkus yang biasanya tampil itu beda, deh, dengan sirkus kali ini; Oriental Circus Indonesia (OCI).
Tessa, teman baik saya, meracuni saya buat pergi nonton. Saya agak ragu tadinya, mengingat Ben punya kecenderungan jiper dengan penampilan visual jadi-jadian, seperti barongsai, badut, dan maskot. Apa kabar sirkus, yang pastinya penuh orang berkostum aneh-aneh? “Anak gue aja semangat banget, bo, nontonnya! Ben pasti seneng juga, deh!” begitu dia meracuni saya. Anak yang dimaksudkannya adalah putri bungsunya yang belum 2 tahun. Jadi, saya pikir, Ben yang sudah 4 tahun pasti lebih bisa mengikuti acara.

Wednesday, 25 May 2016

[Review] KIUBI WAXING STUDIO

 Mumpung lagi mumet sama kerjaan, yuk nge-review.
Selama kurang lebih dua tahun terakhir, saya rajin nge-wax bulu kaki (lower legs). Setelah 3 kali ganti produk, akhirnya saya menjatuhkan hati pada produk ini.
Nah, menjelang ulang tahun saya bulan ini, terpikirlah untuk menggunakan jasa waxing studio. Boleh dong, sesekali ngerasain layanan waxing profesional. Lagipula kalo nge-wax sendiri suka ribet pas bagian betis, suka gak keliatan, bok.
Jadilah awal bulan lalu, tepatnya 6 Mei, pada hari libur yang indah, setelah merayu-rayu suami, saya pun diantar ke Kiubi Waxing Studio.
Kenapa pilih di sana, karena:
1.     Lokasi dekat rumah
2.     Harganya paling murah dibandingkan yang lain. Sempet naksir satu waxing studio, tapi lokasinya jauh dan harganya dua kali lipat Kiubi untuk layanan yang saya inginkan. Pankapan saya coba deh di situ, soalnya bahan wax-nya digadang-gadang lebih baik daripada sugar wax, yang selama ini saya gunakan dan juga dipakai di Kiubi.

Friday, 27 November 2015

Sugarpot Wax Review

Sudah beberapa waktu yang lalu sejak saya pertama kali menggunakan produk sugaring, tanpa merk, dengan harga kurang lebih 60 ribu rupiah. Saya cukup puas dengan produk ini.
Setelah botol wax itu kosong, saya mencari-cari produk sugar wax lain. Ketemulah dengan sebuah produk yang digadang-gadang sebagai yang termurah.
Apa daya, ternyata harga bicara. Produk ini memang paling murah (hanya 25 ribu!), sekaligus paling mengecewakan. Saya harus mengaplikasikan produk beberapa kali baru bisa tercabut semua, itu pun meninggalkan jejak ingrown hair, dan paling parah terakhir, seluruh bagian kaki bawah saya gatal-gatal, hingga 2 minggu lebih. Tentu saja, produk itu langsung berakhir di tempat sampah.

Tadinya agak ragu waktu akan membeli Sugarpot Wax, karena takut hasilnya sama saja, dan cukup trauma dengan efek gatal yang berujung pada bekas garukan yang jelek banget di kaki >:(
Tetapi karena tidak kepingin mencukur lagi, saya nekad melakukan pembelian. Ketika barang datang, saya cukup terkesan dengan kemasannya yang rapi dan cukup mewah. Kainnya tampak lebih tipis daripada produk pertama, tapi terlihat berkualitas. Kayu pengolesnya pun terlihat elegan.
Namun, produk tersebut terpaksa bertengger saja di dalam lemari selama beberapa hari. Kaki saya tiba-tiba gatal lagi, walaupun tidak separah sebelumnya, mungkin karena saya iseng scrub. Lalu saya terpikir untuk mencobanya di satu bagian dulu. Jika kaki saya tambah gatal, saya akan stop pemakaian, dan tunggu sampai benar-benar pulih.
Namun apa daya, pada percobaan pertama, saya langsung terpukau dengan Sugarpot. Wax-nya terasa lembut di kaki (yang dulu-dulu biasanya langsung terasa mencabut-cabut waktu sedang dioleskan), kainnya pun terlihat berkualitas, dan yang paling berkesan adalah ketika saya mencabutnya. Hanya dengan rasa sakit yang sangat minimal, bulu-bulu tercabut dengan mudahnya, dan hebatnya, tanpa jejak bintik-bintik merah yang terpampang nyata (seperti pada dua produk sebelumnya). Saking terkesannya, tanpa pikir panjang, saya langsung mengaplikasikannya pada dua kaki saya. Saya sudah membekali diri pula dengan soothing mist-nya, jadi sehabis wax, saya semprot ke kaki.
Menakjubkan, sampai sekarang (2 hari setelah wax), kaki saya tidak terasa gatal, bintik merah tidak terlihat, kulit pun terasa halusssss banget. Biasanya, begitu selesai wax, kulit suka terasa kasar seperti kulit katak :D
They’ve done a really great job! I am truly touched by the commitment they poured into this product, and may the quality never be compromised. Thank you so much, Sugarpot Wax!

You can buy their precious product herehttp://www.sugarpotwax.com/ 


Tuesday, 24 November 2015

Hotel Serela Waringin, Bandung

*disclaimer:
this review is in English, since I posted it first in TripAdvisor .

To be honest, I can't really decide what to feel regarding my stay here. To keep it short, I'll go by TripAdvisor's guide to writing a great review :p

1. The Service: 9 point from me. They were friendly, fast-responding, I'm particulary impressed by the restaurant staff lady who convinced me that they were able to provide me with plain rice, then that they only served fried rice and yellow rice.
2. The Room: 8 from me. I stayed in a superior room, it's rather small, but not with just basic facilities. I loved the bed, it was super comfort! The bathroom is equipped with two types of shower.
3. Location & amenities: near Pasir Kaliki a.k.a. Paskal, so it's kinda easy for you to travel here and there. There are Indomaret and Alfamart right next to the hotel, some chinese food restaurants - a bit pricey, though.
4. What I liked best: 
I loved how they provide a hairdryer in the bathroom! Oh, also the cottonbud. I mean, those trivial yet thoughtful things.
I adored Mr Julius, the security guy who's working hard to make sure the cars go in and out easily.
I liked the restaurant, they serve somewhat various tasty food.

What I liked least:
They forgot to put the sandals in the room, but they quickly fixed it.
The parking lot is too cramped, and the exit is also the entrance! So, when we checked out on Sunday (they host a church there), it was almost like a traffic frenzy for poor Mr Julius.
The hot water didn't really come out as "hot", it was almost lukewarm. But it was fine by me, as long as it didn't make me freeze.
The pool water was too cold! Or maybe it was like that in every hotel in Bandung?
Oh, and the worst, they said they provide free wifi in every room. Nah, it didn't work in my room (2nd floor). I had to stand by my door just to get an average connection! Luckily, my 3G connection was good in the room.

Overall, I gave Serela Waringin 7,5 out of 10.




Summerbird and Brasserie, Bandung (review singkat)

Waktu mencari penginapan untuk perjalanan ke Bandung akhir pekan kemarin, saya sempat nyangkut di Summerbird ini. Foto-fotonya cantik banget soalnya. Belakangan, saya belajar, apa yang terlihat di layar tak selalu seperti kenyataan langsung di depan mata.
Bukannya Summerbird gak bagus, lho. Gak nyangka aja, lokasinya bukan di tempat yang seasri yang saya pikir. Restorannya pun imut-imut banget, tapi memang sepertinya tempat-tempat di Bandung itu diberkahi dengan karakter fotogenik, deh.
Sebenarnya Summerbird bukan pilihan utama kami. Tadinya kami mau ke Noah’s Barn, sesuai permintaan Sylvi. Tapi ternyata terjadi miskomunikasi, Sylvi yang duduk di depan dan Aries yang menyetir tidak tahu bahwa Noah’s Barn punya cabang, dan cabangnya di Jalan Dayang Sumbi punya desain interior yang menarik hati Sylvi, sementara kami berhenti di depan Noah’s Barn di Jalan Garuda. Tet tot. Setelah tahu Noah’s Barn yang ini tidak menyediakan main course, kami pun berganti tujuan ke Summerbird.

Miss Bee Providore (review from a new fan)


Foto-foto cantik Miss Bee yang bertebaran di review di Internet sukses membuat saya terpincut (dasar makhluk visual) dan memasukkan tempat tersebut ke dalam daftar tempat yang saya ingin kunjungi dalam liburan ke Bandung akhir pekan kemarin. Selain itu, nama sang pemilik, yaitu @jenzcorner, memberi saya jaminan mutu bahwa tempat ini bukan tempat abal-abal. Yup, @jenzcorner, food blogger nan kondang itu.
Setelah menempuh perjalanan yang mendebarkan (baca di sini) selama kurang lebih 1 jam dari Food Market Lembang, tiba juga kami di Miss Bee dengan selamat. Parkiran sudah hampir penuh, dan antrean sudah 10 nomor (menurut informasi pak satpam yang tanggap).
Kami bergegas menaiki tangga mendaki bukit rendah untuk tiba di restoran. Di bawah Miss Bee ada Rabbit Hole, sebuah tempat makan juga, saya kurang tahu apa specialty-nya. Sampai kami pulang, sih, tempat ini masih lengang, berbanding terbalik dengan Miss Bee yang ramai.
Kesan pertama, tempat ini tidak seluas yang tampak di foto-foto di blog. Kesannya malah agak imut, tapi asri. Bayangkan, sebuah rumah tua di atas bukit, dengan pemandangan hutan dan ditemani gerimis, aihh….

Floating Market Lembang (review alakadarnya)

FML menjadi tempat tujuan pertama kami dari Jakarta. Kami tiba di tempat ini dengan selamat setelah mengikuti petunjuk Mbak Google Maps (MGM), lewat jalan-jalan kampung.
Sampai di sana kurang lebih pukul 10 pagi, masih belum terlalu ramai.
Sementara saya menemani Sylvie membeli simcard Simpati untuk tabletnya, Aries dan Ben menuju wahana bermain air. Ben langsung menunjuk sepeda air.
Sambil menunggu bapak dan anak yang sedang seru ngegowes, Sylvie membeli sosis, dan saya menukar koin untuk Ben masuk tempat kelinci.
Sebelum mengunjungi kelinci, Ben naik kereta dulu (saya digratiskan, padahal ada bapak-bapak yang menemani anaknya tetap bayar, hihi). Kereta mengitari taman kecil sebanyak 2 kali. Senang sekali dengan lagu-lagu yang diputar dalam kereta, lagu-lagu daerah dan lagu anak-anak yang asli.
Masuk ke tempat kelinci, saya hampir histeris melihat banyaknya kelinci yang lucu dan menggemaskan. I’ve got this Alice-in-Wonderland feeling here, hahaha. Mereka bebas berlarian masuk ke gorong-gorong kecil, rumah-rumah kecil. Sementara Ben sibuk mengejar kelinci untuk memberi makan wortel, saya sibuk berburu buah ceri kampung (bukan, bukan cherry). Agak sayang sih, kelinci-kelinci tersebut sudah pada kekenyangan, yah, abis gimana, mereka diberi makan sebebasnya dan tanpa jadwal. Itu salah satu sebab saya secara pribadi mem-ban K*nt*m Nursery, karena para pengunjung dibebaskan untuk memberi makan binatang-binatang di sana. Kasihan!
Kami makan siang di sebuah restoran Sunda, lupa euy namanya. Ada paket nasi timbel, harganya kurang lebih 45 ribu.
Overall, FML ini cocok buat wisata keluarga. Tempatnya terawat rapi (di mana-mana banyak petugas yang rajin membersihkan dan menyiangi rumput), ada tempat main anak, ada tempat makan, cuaca sejuk. One-stop family leisure park, gitulah.
Ponten 8 dari saya!


HARGA
Tiket masuk per orang            : 15 ribu (bisa ditukar dengan welcome drinklemon tea, Milo, kopi, teh. Yang dingin hanya lemon tea.)
Tiket parkir mobil                   : 10 ribu
Tiket sepeda air                      : 50 ribu
Kasih makan kelinci                : 20 ribu per orang
Naik kereta                              : 30 ribu per orang





Tuesday, 17 February 2015

Samosir -Medan Trip (3)



Sabtu, 14 Februari 2015
Pukul 09.20, kami dijemput kapal menuju Parapat. 1 jam lebih perjalanan sambil menjemput penumpang lain, kami turun di pelabuhan, dan langsung bertemu dengan agen travel yang sudah kami pesan, Bagus Taxi. Kami menegaskan untuk minta bangku tengah, apalagi setelah melihat ada 3 orang bule yang memesan mobil yang sama. Mereka kan badannya besar, takutnya mereka langsung mengambil tempat di tengah. Untunglah agen travel mau bekerja sama, “Mereka juga baru pesan tiket, kan!” demikian kata si abang. Sambil menunggu waktu keberangkatan, kami pergi ke sebuah warung kopi bernama De Karo, dan membeli kopi giling kasar 1 kilogram dan sebuah VCD lagu-lagu Batak. Si kakek pemilik warung tampak ramah dan dengan senang hati melayani kami. Warung kopi itu tampak apik dengan berbagai stiker nama negara menghiasi sudut-sudutnya, dan isinya pun kebanyakan bule. Kami meninggalkan warung itu dengan hati riang. Setiba di Jakarta, Aries iseng menimbang bungkusan kopi, dan fakta menunjukkan bahwa si kakek mengurangi 100 gr dari hak kami. Kampret.

Samosir-Medan Trip (2)

Tuk-Tuk Hari 1
Kami tiba di penginapan sekitar pukul 6 malam, pihak hotel mempersilakan kami bersantai terlebih dulu. Aries memutuskan untuk nyebur dan membawa Ben. Sayangnya, Ben mungkin masih belum fit (habis demam sebelum pergi), dia pun menangis meronta-ronta, akhirnya menolak masuk danau hingga hari terakhir L Lumayan ngeri juga sih kalo gak bisa berenang, soalnya arusnya rada kenceng dan dalam. Sepertinya kami adalah satu-satunya tamu orang lokal alias sesama orang Indonesia. Lainnya bule, tapi sepertinya kebanyakan mereka bukan English speaker. Buku-buku yang disediakan di rak restoran pun 98% berbahasa non Inggris :D Entahlah itu bahasa apa, mungkin Jerman. Oya, ada satu buku berbahasa Indonesia: Pelajaran Geografi untuk kelas 5 SD. Entah tahun berapa buku itu. Kami berjalan-jalan sebentar, tapi tidak menemukan apa-apa, dan karena hari sudah makin gelap, kami pun kembali ke kamar.

Samosir-Medan Trip (1)



Kamis, 12 Februari, pukul 6 pagi, kami bersiap meninggalkan Jakarta melalui bandara Soekarno-Hatta. Taksi BlueBird yang kami pesan datang tepat waktu, dan mengantarkan kami tiba di bandara kurang lebih 45 menit lamanya. Karena sudah mobile check-in, saya langsung menuju counter Garuda Indonesia yang paling sepi (dengan tulisan waiting list passengers) dan menunjukkan ponsel saya pada petugas di sana. Tepatnya, isi SMS yang saya terima dari Garuda. Tak sampai 5 menit, boarding pass pun saya terima.
Perjalanan dengan Garuda selalu menyenangkan. Saya nonton film Tabula Rasa (2014) hampir sepanjang perjalanan, sayang belum selesai, pesawat sudah mendarat di Kuala Namu International Airport. Kesan pertama saya saat menginjakkan kaki di sini, wah, gede dan mewah banget. Saya harus menjelajahinya nanti waktu hari keberangkatan kembali ke Jakarta, tekad saya, yang terburu-buru karena ingin mengejar kendaraan menuju Siantar.
Seperti yang disarankan dalam blog seseorang, melangkah saja dengan tampang yakin, jangan terlihat bingung. Banyak sekali abang-abang yang akan mendekati Anda dan menawarkan kendaraan mereka. Jangan tergoda! Jika Anda seperti saya yang ogah mengeluarkan uang banyak sementara ada alternatif lain yang relatif lebih murah, segeralah melangkah keluar, carilah plang besar bertuliskan “Bus”, dan carilah kendaraan dengan label Paradep. Saya mendapat mobil Avanza, berkapasitas 7 orang penumpang dan 1 supir. Saya, suami, dan anak (dihitung full, karena itu dia berhak selonjoran di kursi), membayar 165 ribu untuk perjalanan 3 jam lebih ke Siantar. Mobil berhenti sejenak pada pukul 12 kurang di sebuah tempat makan sangat sederhana. Hanya kami dan sang supir yang makan. Harga makanan juga relatif terjangkau. Saya makan nasi dengan lauk ikan dan sayur lontong dikenai 15 ribu.

Monday, 22 September 2014

BerryBenka vs Pink Emma - Review


Setelah sekian lama gw belanja online lewat Instagram, beberapa hari yang lalu gw ketemu penawaran yang cukup menarik dari online shop besar di Indonesia: BerryBenka dan Pink Emma.

BerryBenka (BB) dan Pink Emma (PE) bukan situs asing sebenernya buat gw. Cukup sering juga gw jajan mata di situ. Sekilas, Pink Emma terkesan lebih murah, email-email penawaran yang dikirimkan pun terasa lebih personal, dengan membubuhkan sapaan "sis" dan menyebut si penerima email dengan "kamu".

Gw lagi nyari-nyari ikat pinggang diameter kecil yang biasa dipake buat dress, dan biasalah, cewek, dari ikat pinggang bisa nyasar ke cardigan, kemeja, dress, rok, tas, balik lagi nyari kemeja hitam-lah, kemeja motif bunga-bunga-lah.
Pilihan pertama tadinya ke PE, tapi waktu jalan-jalan di BB, ketemu produk yang gak terlalu mahal dan kelihatan bagus. So, gw pesen ikat pinggang di BB. Agak kaget waktu masuk ke detail pembayaran, karena ongkirnya (JNE) 9500 perak. Padahal setau gw, ongkir JNE antar Jakarta itu 8000 perak untuk reguler. Belum lagi ada tambahan kode pembayaran, sebesar 252 perak. Kecil sih emang, tapi gw selalu sebal kalo ketambahan kode begini, kan jadi gak bulet lagi harganya, gak sesuai yang tertera. Ish.
Maka, dengan harga ikat pinggang sebesar 35.000 perak, total yang harus gw bayar untuk belanja di BB adalah 44.752 perak.

Di waktu yang bersamaan, gw juga lagi keliling di PE, dan ketemu penawaran seru. Ada cardigan yang sedang diskon 49%, lalu dapet kode diskon lagi (potong 25 ribu), jadi cardigan yang asalnya senilai 89 ribu, total hanya senilai 24 ribu rupiah! Plus ongkir 9 ribu, jadi gw harus transfer 33 ribu perak.

Pembelian sama-sama dilakukan pada Kamis malam. Gw prediksi Sabtu sore bisa sampe, ato paling apes Senin lah.

Thursday, 21 August 2014

Review Film "Merantau"

Semalem nonton film ini sama suami. Gara-garanya si suami kelaperan tengah malem dan minta diambilin roti di bawah. Gw ajak aja turun sekalian, nonton, tar gw buatin teh tarik, oleh-oleh dari si Dodot dari Thailand. Suami langsung setuju, dan jadilah kita midnight movie time.

Monday, 15 July 2013

Review Asasta Spa Tanjung Duren

Asasta Spa is underrated.

Seriously, tempat ini bagus, pijetnya juga mantap, ga kalah sama yang udah ngetop duluan.

Setelah penasaran denger cerita temen yang bilang pijet situ enak banget sampe ketiduran, gue pun berkesempatan mencoba Asasta Spa yang tinggal sepelemparan kolor Superman dari rumah gue.